Jumat, 19 April 2013

Persiapan Dan Pelaksanaan Layanan Bimbingan Kelompok


A.    Pendahuluan
Kiprah bimbingan dan konseling dewasa ini tidak lagi hanya terbatas pada lingkungan pendidikan sekolah, melainkan menjangkau seting luar sekolah dan masyarakat. Dalam era kesejagatan saat ini, individu dituntut agar selalu mengembangkan dan/atau memperbaiki kecakapannya dalam memilih informasi agar dapat mengambil keputusan secara tepat. Pengembangan dan/atau perbaikan kecakapan semacam ini perlu dilakukan secara terus menerus dalam bebagai aspek kehidupan melalui proses belajar sepanjang hayat. Konseling merupakan wahana pelayanan yang mampu memfasilitasi individu dan kelompok untuk menghadapi perubahan yang pesat dan ragam informasi yang amat kompleks.
Pelayanan konseling yang diluncurkan dengan kerangka kerja kelompok dapat berbentuk Layanan Konseling  Kelompok (KKp) atau Layanan Bimbingan Kelompok (BKp). Kondisi riil di lapangan menunjukkan adanya bahwa Layanan KKp dan/atau BKp ini semakin menjadi unggulan dan primadona dalam keseleruhan penyelenggaraan program konseling.
Konsekuensi logis dari perspektif di atas adalah adanya tuntutan pelayanan KKp dan atau BKp  yang profesional. Konseling, dalam bentuk perorangan atau kelompok, esensinya  merupakan proses bantuan untuk mengentaskan masalah yang terbangun dalam suatu hubungan tatap muka antara dua orang individu (klien yang mengahadapi masalah dengan konselor yang memiliki kualifikasi yang dipersyaratkan). Bantuan dimaksud diarahkan agar klien mampu memecahkan masalah yang dihadapinya dan mampu tumbuh kembang ke arah yang dipilihnya, sehingga klien mampu mengembangkan dirinya ke arah peningkatan kualitas kehidupan sehari-hari yang efektif (effektive daily living). Hubungan dalam proses konseling terjadi dalam suasana profesional dengan menyediakan kondisi yang kondusif bagi perubahan dan pengembangan diri klien.
Konseling profesional merupakan layanan terhadap klien yang dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan dapat dipertanggungjawabkan dasar keilmuan dan teknologinya. Penyelenggaraan konseling profesional bertitik tolak dari teori dan/atau pendekatan-pendekatan yang dijadikan sebagai dasar acuannya.
Implikasi dari tuntutan ini adalah, para calon konselor profesional perlu dipersiapkan melalui pembekalan terprogram untuk memperoleh pengalaman mengelola KKp dan/atau BKp secara langsung dengan sejumlah kelompok klien yang bervariasi.
Untuk mendapatkan proses yang maksimal dalam pelaksanaan bimbingan konseling kelompok, maka dibutuhkan perencanaan program layanan yang matang. Tidak hanya itu langkah-langkah yang harus ditempuh dalam proses pelaksanaan bimbingan konseling kelompok pun hendaknya telah dipersiapkan dengan matang oleh konselor, bahkan hingga proses tindak lanjut sekali pun.

B.    PEMBAHASAN
1.    Langkah awal
Langkah awal diselenggarakan dalam rangka pembentukan kelompok sampai dengan mengumpulkan para peserta yang siap melaksanakan kegiatan kelompok. Langkah awal dimulai dengan penjelasan tentang adanya layanan bimbingan kelompok bagi para siswa. Penjelasan ini berisi tentang pengertian, tujuan dan kegunaan secara umum layanan tersebut. Setelah penjelasan ini diharapkan dapat menghasilkan kelompok-kelompok yang langsung merencanakan waktu dan tempat untuk menyelenggarakan kegiatan bimbingan kelompok yang sebenarnya.
Anggota dari bimbingan kelompok terdiri dari 10-15 orang dari keseluruhan siswa asuh guru pembimbing yang sebanyak 150 orang. Dengan demikian akan terbentuk 10-15 kelompok yang masing-masing akan menjadi wadah, sasaran dan sekaligus aktor-aktor dalam penyelenggaraan layanan bimbingan kelompok.
Peranan guru pembimbing dalam tahap ini hendaklah benar-benar aktif. Ini tidak berarti bahwa guru pembimbing berceramah atau mengajarkan apa yang seharusnya dilakukan oleh anggota kelompok. Guru pembimbing perlu melakukan : (a) penjelasan tentang tujuan kegiatan, (b) penumbuhan rasa saling mengenal antar anggota, (c) penumbuhan sikap saling mempercayai dan saling menerima, dan (d) pembahasan tentang tingkah laku dan suasana perasaan dalam kelompok.
Setelah pembentukan kelompok kemudian dimulai dengan pertemuan pertama yang disebut peran serta. Di sini guru pembimbing kelompok perlu melakukan langkah-langkah sebagai berikut :

a.    Perkenalan
Guru pembimbing terlebih dahulu memperkenalkan diri kepada anggota kelompok, kemudian guru pembimbing meminta masing-masing anggota memperkenalkan diri atau guru pembimbing memperkenalkan masing-masing anggota. Jika masing-masing anggota kelompok sudah saling mengenal, maka yang dilakukan guru pembimbing adalah meningkatkan kualitas hubungan antar anggota kelompok.
b.    Pelibatan Diri
Guru pembimbing menjelaskan pengertian dan tujuan yang ingin dicapai memlalui kegiatan kelompok. Guru pembimbing memunculkan dirinya sehingga tertangkap oleh para anggota sebagai orang yang benar-benar bisa dan bersedia membantu para anggota kelompok mencapai tujuan mereka. Konselor harus mampu menumbuhkan sikap kebersamaan, perasaan sekelompok, suasana bebas, terbuka, saling percaya, saling menerima, saling membantu diantara para anggota.
c.    Agenda
Agenda adalah tujuan yang ingin dicapai di dalam kelompok. Agenda dapat dibagi menjadi agenda jangka panjang dan jangka pendek. Agenda jangka panjang yaitu tujuan yang ingin dicapai oleh anggota kelompok setelah kelompok selesai. Agenda jangka pendek yaitu agenda untuk hari itu atau pertemuan itu. 


d.    Norma Kelompok
Rochman Natawidjaya (1987) menyatakan bahwa kerahasiaan merupakan persoalan pokok yang paling penting dalam konseling kelompok. Ini bukan hanya berarti bahwa guru pembimbing harus memelihara kerahasiaan tentang apa yang terjadi dalam konseling kelompok itu, melainkan guru pembimbing, sebagai pemimpin harus menekankan pada semua peserta pentingnya pemeliharaan kerahasiaan itu. Apa yang terjadi didalam kelompok dilarang dibicarakan di luar kelompok dengan orang lain.
e.    Penggalian Ide dan Perasaan
Sebelum pertemuan pertama berakhir perlu digali ide-ide maupun perasaan-perasaan yang muncul. Usul-usul perlu ditampung, demikian pula perasaan yang masih menganjal perlu diungkapkan sebelum dilanjutkan pada langkah berikutnya. Hal ini penting untuk menjaga rasa positif anggota terhadap kelompok.

2.    Perencanaan kegiatan
Perencanaan kegiatan layanan meliputi
1.    Materi layanan (hanya materi bimbingan kelompok tugas yang dapat ditetapkan terlebih dahulu, sedangkan materi bimbingan keompok yang bersifat kelompok bebas akan muncul secara bebas dalam pelaksanaan kegiatan.)
2.    Tujuan yang ingin dicapai, yaitu tujuan bimbingan kelompok.
3.    Sasaran kegiatan, yaitu kelompok yang dimaksudkan.
4.    Bahan atau sumber bahan untuk kelompok tugas, mungkin ada bahan-bahan tertentu yang perlu disiapkan oleh Guru Pembimbing.
5.    Rencana penilaian.
6.    Waktu dan tempat.



3.    Pelaksanaan kegiatan
Setelah perencanaan kegiatan disusun dengan matang, langkah selanjutnya yaitu Pelaksanaan Kegiatan. Dalam Pelaksanaan Kegiatan ini dibagi menjadi dua tahap, yaitu :
1)    Persiapan Pelaksanaan
Persiapan Pelaksanaan merupakan tahap pertama dari proses Pelaksanaan Kegiatan. Persiapan Pelaksanaan dilaksanakan melalui :
a.    Persiapan menyeluruh
Persiapan untuk pelaksanaan layanan bimbingan kelompok atau konseling kelompok meliputi :
(1)    Persiapan fisik
Persiapan fisik di sini yang dimaksudkan yaitu persiapan mengenai tempat yang akan dipergunakan dalam bimbingan kelompok atau konseling kelompok itu, dan persiapan mengenai kelengkapan yang dibutuhkan selama proses bimbingan kelompok atau konseling kelompok itu berlangsung. Tempat yang digunakan dalam bimbingan kelompok diharapkan senyaman mungkin, agar pelaksanaan bimbingan kelompok dapat berjalan dengan lancar.
(2)    Persiapan bahan
Persiapan bahan dikhususkan untuk kelompok tugas. Kelompok tugas yaitu kelompok yang mendapatkan tugas dalam pelaksanaan bimbingan kelompok atau konseling kelompok.
(3)    Persiapan keterampilan
Seorang Guru Pembimbing (pemimpin kelompok)  yang akan  melaksanakan bimbingan kelompok diperlukan adanya persiapan keterampilan untuk mengelola bimbingan kelompok dengan baik agar bimbingan kelompok dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
(4)    Persiapan administrasi
Persiapan administrasi merupakan persiapan yang diperlukan sebelum pelaksanaan bimbingan kelompok atau konseling kelompok berlangsung. Persiapan administrasi harus dilengkapi oleh Guru Pembimbing yang akan melaksanakan bimbingan kelompok dan peserta dalam bimbingan kelompok.
b.      Persiapan Keterampilan
Mengenai persiapan keterampilan untuk penyelenggaraan bimbingan dan konseling kelompok Guru Pembimbing diharapkan mampu melaksanakan tehnik-tehnik sebagai berikut :
(1)   Tehnik Umum
(a)    “Tiga M”, yaitu mendengar dengan baik, memahami secara penuh, dan merespon secara tepat dan positif.
(b)   Dorongan minimal (dormin)
Dorongan mininal (dormin) salah satu keterampilan yang harus dimiliki Guru Pembimbing dalam pelaksanaan bimbingan kelompok atau konseling kelompok. Dorongan minimal ini diberikan oleh Guru Pembimbing kepada peserta bimbingan kelompok atau konseling kelompok, untuk memberikan motivasi atau dorongan kepada peserta bimbingan kelompok agar beraktivitas secara aktif dalam bimbingan kelompok.

(c)   Penguatan
Penguatan diberikan oleh Guru Pembimbing kepada peserta bimbingan kelompok untuk menguatkan anggota apabila anggota hendak melakukan sesuatu atau mengemukakan pendapatnya.
(d)  Keruntutan
Seorang Guru Pembimbing yang hendak melaksanakan bimbingan kelompok, terlebih dahulu membuat daftar pelaksanaan bimbingan kelompok, dari awal sampai akhir. Hali ini dimaksudkan agar dalam pelaksanaan bimbingan kelompok dapat berjalan dengan lancar dan runtut tidak simpang siur.
(2)   Keterampilan memberikan tanggapan :
(a)   Mengenal perasaan peserta
Sebagai seorang Guru Pembimbing diharapkan memiliki rasa empati dalam dirinya, rasa empati ini bertujuan agar Guru Pembimbing dapat merasakan apa yang sedang dirasakan oleh anggota bimbingan kelompok sehingga Guru Pembimbing dapat mengenal perasaan anggota bimbingan kelompok.
(b)   Mengungkapkan perasaan sendiri
Pemimpin kelompok diharapkan dapat mengendalikan emosi yang ada dalam dirinya. Apa yang terjadi dalam bimbingan kelompok tidak harus disamakan dengan pengalaman pribadinya.
(c)   Merefleksikan
Pemimpin kelompok mempu merefleksikan atau memberikan contoh atas apa yang telah dibahas kepada anggota kelompok.
(3)   Keterampilan memberikan pengarahan :
(a)   Memberikan informasi
Dalam bimbingan kelompok hal yang dikemukakan oleh kelompok adalah mengenai topik umum, maka sebagai pemimipin dalam bimbingan kelompok dituntut untuk memberikan informasi yang aktual yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan dalam publik, sehingga anggota kelompok mampu mempertimbangkan hal apa yang nantinya akan dibahas.
(b)   Memberikan nasihat
Dalam bimbingan kelompok diperbolehkan seorang Guru Pembimbing memberikan nasihat kepada anggota kelompok, ahal ini bertujuan agar pelaksanaan bimbingan kelompok dapat berjalan dengan kondusif.
(c)   Bertanya secara langsung dan terbuka
Pemimpin kelompok memberikan pengarahan kepada anggota kelompok apabila ada sesuatu hal yang dirasa kurang  jelas dan kurang dipahami dalam pembahasan topik bimbingan kelompok, anggota kelompok dapat menanyakan langsung dan secara terbuka dengan mengangkat tangan terlebih dahulu.
(d)  Mempengaruhi dan mengajak
Anggota kelompok dalam bimbingan kelompok  tak semuanya bersifat aktif, maka dari itu sebagai pemimpin kelompok harus dapat mempengaruhi dan mengajak anggota kelompok yang pasif agar dapat mengikuti bimbingan kelompok dengan aktif.
(e)   Menggunakan contoh pribadi
Apabila dalam pelaksanaan bimbingan kelompok dibutuhakan contoh untuk memperjelas topik yang dibahas, mungkin pemimpin kelompok dapat memberikan contoh yang ada pada dirinya.
(f)    Memberikan penafsiran
Pemimpin kelompok memberikan penafsiran tentang apa yang diutarakan oleh anggota kelompok.

(g)   Mengkonfrontasikan
Teknik ini dikenal juga dengan “ memperhadapkan “. Teknik konfrontasi adalah suatu teknik yang menantang klien untuk melihat adanya inkonsistensi (tidak konsisten) antara perkataan dengan perbuatan, ide awal dengan ide berikutnya, senyum dengan kepedihan. Misalnya anggota kelompoks menceritakan hal-hal yang sedih tetapi sambil tertawa dan tersenyum gembira.
(h)   Mengupas masalah
Dalam bimbingan kelompok bukan permasalahan yang akan dibicarakan tetapi mengenai topik umum yang ada di sekitar kita. Topik umum itu ditentukan oleh anggota kelompok, setelah topik ditentukan, sebagai pemimpin kelompok hendaknya memimpin dan mengarahkan anggota kelompok untuk mengupas masalah yang menjadi topik dalam bimbingan kelompok tersebut.
(i)     Menyimpulkan
Setelah pembahasan topik itu selesai , tugas Pemimpin kelompok yang selanjutnya adalah menyimpulkan dari hasil pembahasan tersebut dan disampaikan kepada semua anggota kelompok.
                        Corey (1981: 113-115) mengemukakan pandangan-pamdangan keterampilan kepemimpinan kelompok sebagai berikut :
Keterampilan    Deskripsi    Tujuan dan Hasil yang diinginkan
Mendengar aktif    Memperhatikan aspek-aspek verbal dan nonverbal dari komunikasi tanpa penilaian dan evaluasi    Untuk membangkitkan kepercayaan dan mengungkapkan diri klien dan eksplorasi
Merefleksi    Mengatakan dengan kata-kata yang agak berbeda apa yang dikatakan peserta untuk kejelasan maknanya    Untuk menentukan apakah pemimpin telah memahami dengan tepat pernyataan klien; untuk memberikan dukungan dan penjelasan
Menjelaskan    Memahami esensi pesan menurut tingkat perasaan dan pikiran; menyederhanakan pernyataan klien dengan berfokus pada isi pesan    Membantu klien memisahkan yang bertentangan, dan perasaan, pikiran yang langsung; untuk mencapai pengertian yang bermakna tentang apa yang sedang disampaikan
Merangkum    Menguasai kesamaan-kesamaan pernyataan-pernyataan klien dri suatu interaksi atau session    Untuk menghindarkan fragmentasi dan memberikan bimbingan atas satu session, memberikan kontiunitas dan makna
Menjelaskan pertanyaan    Mengajukan pertanyaan terbuka yang menuntun eksplorasi diri tentang “apa” dan “bagaimana” kita berperilaku    Untuk mengundang klien berdiskusi lebih lanjut; memperoleh informasi, merangsang pikiran; untuk memperluas uraian dan fokus untuk melangkah ke eksplorasi diri lebih lanjut
Menginterpretasikan    Memberikan penjelasan-penjelasan yang tepat atas perilaku, perasaan, dan pemikiran    Untuk mendorong eksplorasi diri lebih dalam; untuk memberikan perspektif baru pertimbangan dan pemahaman perilaku seseorang
Mengkonfrontasikan    Menantang peserta untuk melihat ketidak sesuaian-ketidak sesuaian antara kata dan tindakan mereka/isyarat tubuh dan komunikasi lisan; menunjukkan informasi atau pesan yang bertentangan    Untuk mendorong penyelidikan diri yang jujur; untuk mengembangkan penggunaan potensi sepenuhnya; untuk menumbuhkan kesadaran tentang penyangkalan diri
Merefleksi perasaan    Menyampaikan pemahaman tentang kandungan perasaan-perasaan    Untuk membiyarkan anggota mengetahui bahwa mereka didengar dan mengerti melebihi tingkatan kata-kata
Mendukung    Memberikan dorongan dan penguatan    Untuk menciptakan suasana yang memberikan dukungan yang mendorong anggota untuk meneruskan perilaku yang diinginkan; untuk memberikan bantuan bila klien sedang menghadapi perjuangan yang sukar; untuk menimbulkan kepercayaan
Memberi penegasan    Memperkenalkan kepada klien dengan menerima kerangka referensi mereka    Untuk membantu kepercayaan dalam hubungan terapeutik; untuk menyampaikan pemahaman; untuk mendorong melancarkan eksplorasi diri lebih dalam
Memperlancar    Memulai komunikasi yang jelas dan langsung dalam kelompok; membantu anggota memikul tanggung jawab yang meningka menurut petunjuk kelompok    Untuk memajukan komunikasi yang efektif antar angggota; untuk membantu anggota mencapai tujuan-tujuan mereka sendiri dalam kelompok
Memprakarsai    Mengambil tindakan untuk membangkitkan partisipasi kelompok dan untuk memperkenalkan petunjuk baru pada kelompok    Untuk mencegah kelompok yang meraba-raba yang tidak berguna; untuk memperluas langkah-langkah proses kelompok
Menetapkan tujuan    Merencanakan tujuan-tujuan khusus bagi proses kelompok dan membantu peserta menetapkan tujuan-tujuan konkrit dan bermakna    Untuk memberikan arah kepada aktivitas-aktivitas kelompok; untuk membantu anggota-anggota memilih dan mengklasifikasikan tujuan mereka
Mengevaluasi    Menilai terus-menerus proses kelompok dan dinamika individu dan kelompok    Untuk mengembangkan kesadaran diri yang lebih mendalam dan pemahaman yang lebih baik tentang gerak dan arah kelompok.
Memberikan umpan balik    Mengungkapkan reaksi-reaksi konkrit dan jujur berdasarkan pada observasi perilaku anggota-anggota    Untuk memberikan/menawarkan pandangan eksternal tentang bagaimana seseorang tampak kepada orang lain; untuk mengembangkan kesadaran diri klien.
Menganjurkan    Memberikan nasehat dan informasi, arahan-arahan dan ide-ide tentang perilaku baru    Untuk membantu anggota mengembangkan alternative jalan pemikiran dan tindakan
Melindungi    Berusaha melindungi anggota dari resiko-resiko psikologis yang tidak perlu dalam kelompok    Untuk memperingatkan anggota dari resiko-resiko karena partisipasi kelompok; untuk mengurangi resiko-resiko ini
Menyiapkan diri    Menyatakan reaksi-reaksi seseorang terhadap peristiwa-peristiwa di sini dan kini dalam kelompok    Untuk meningkatkan mutu/tingkat-tingkat interaksi lebih mendalam dalam kelompok; untuk menimbulkan kepercayaan; untuk memperagakan cara-cara mengungkapkan dirinya sendiri pada orang lain
Memperagakan    Mendemonstrasikan perilaku yang dikehendaki melalui tindakan    Untuk memberikan contoh-contoh tentang perilaku yang dikehendaki; untuk memberikan semangat mengembangkan potensi-potensi mereka secara lengkap
Menghadapi kebisuan/kebungkaman    Menghentikan komunikasi verbal dan non verbal    Mengijinkan refleksi dan perpaduan; untuk mempertajam fokus; mengintregasikan materi yang kuat secara emosional; untuk membantu kelompok memanfaatkan akalnya/pikirannya sendiri
Memblokir    Menghalangi untuk menghentikan perilaku kontra-produktif dalam kelompok    Untuk melindungi anggota guna mempertinggi arus proses kelompok
Mengakhiri    Mempersiapkan kelompok mengakhiri session atau mengakhiri ceritanya    Untuk mempersiapkan anggota merencana, mempersatukan, dan menggunakan pengetahuan sendiri untuk kehidupannya sehari

2.      Pelaksanaan tahap-tahap kegiatan
Pada tahap pelaksanaan kegiatan terletak pada waktu dan tempat, dan dengan para peserta sebagaimana telah direncanakan dimulai kegiatan bimbingan kelompok atau konseling kelompok yang sebenarnya. Tahap-tahap kegiatan, dari tahap 1 sampai dengan tahap IV. Pada pertemuan kelompok yang pertama kali, biasanya tahap I memerlukan waktu yang cukup panjang. Pada tahap ini para peserta yang baru pertama ketemu benar-benar dibentuk menjadi kelompok yang cukup solid sehingga dinamika kelompok yang berkembang diantara mereka selanjutnya akan dimanfaatkan untuk mencapi tujuan-tujuan bimbingan dan konsiling. Untuk itu diperlukan waktu yang cukup lama dengan kegiatan yang bervariasi.
Tahap II merupakan jembatan antara tahap I dan tahap III. Berapa lama tahap II berlangsung banyak tergantung pada keberhasilan tahap I. Apabila tahap I sudah berhasil dengan baik, tahap II seringkali hanya sekedar mengulangi dan memantapkan penjelasan tentang beberapa aspek pokok yang ada dalam tap III. Apabila tahap I kurang mantap, boleh jadi dalam tahap II akan timbul ketidak seimbangan diantara peserta. Apabila ketidak seimbangan terjadi, barangkali pemmmpin kelompok perlu kembali kepada aspek-aspek penting tertentu pada tahap I.
Tahap III merupakan inti dari keseluruhan kegiatan layanan bimbingan kelompok dan konseling kelompok. Tahap ini sering disebut tahap kerja. Dari tahap ini akan diperoleh hasi-hasil yang diharapkan, yaitu mengembangkan pribadi dan perolehan kerja yang mencakup aspek-aspek kognitif, afektif, konatif, dan berbagai pengalaman serta alternatif pemecahan masalah. Dalam tahap ini seluruh peserta diminta untuk “bekerja”, mengembangkan pikiran, memberikan sokongan dan dorongan, bertanya dan akan memberikan penjelasan, penjelasan dan usul, bahkan memberikan nasihat dan alternatif jalan keluar untuk pemecahan suatu masalah. Tahap III ini, biasanya para peserta meminta agar lebih banyak topik atau masalah dapat dibahas dalam pertemuan mereka itu.
Tahap IV merupakan antiklimaks dari seluruh kegiatan, pada tahap ini kegiatan menyurut. Semangat yang tadinya pada tahap III menggebu-gebu sekarang mengendor. Segala sesuatu menuju kepada pengakhiran kegiatan. Pada tahap ini pemimpin kelompok meminta kesan-kesan dari para peserta, dan akhirnya kesan-kesan ini dikaitkan dengan kemungkinan petemuan berikutnya. Usul-usul peserta yang menghendaki segera adanya pertemuan lagi, apalagi kalau pertemuan kembali itu dikehendaki supaya lebih cepat, menunjukkan betapa kegiatan bimbingan kelompok telah membuahkan sesuatu yang berharga bagi peserta yang bersangkutan.          
D.    Evaluasi kegiatan
Penilaian kegiatan bimbingan kelompok tidak ditujukan kepada “hasil belajar” yang berupa penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang diperoleh para peserta,melainkan diorientasikan kepada perkembangan pribadi siswa dan hal-hal yang dirasakan oleh mereka berguna. Isi kesan-kesan yang diungkapkan oleh para peserta merupakan isi penilaian yang sebenarnya
Penilaian terhadap bimbingan kelompok dilakukan secara tertulis,baik melalui essay,daftar cek maupun daftar isian sederhana. Secara tertulis peserta diminta mengungkapkan perasaannya,  pendapatnya, harapannya, minat dan sikapnya terhadap berbagai hal,baik yang telah dilakukan selama kegiatan kelompok maupun kemungkinan keterlibatan  mereka untuk kegiatan serupa selanjutnya. Peserta juga diminta untuk mengemukakan (baik lisan maupun tertulis) tentang hal-hal yang paling berharga dan atau kurang mereka senangi selama kegiatan berlangsung.
Penilaian terhadap layanan bmbingan kelompok dan hasil-hasilnya tidak bertitik tolak dari criteria benar-salah,namun berorientasi pada perkembangan yaitu mengenali kemajuan atau perkembangan positif yang terjadi pada diri peserta kegiatan. Penilaian terhadap layanan tersebut lebih bersifat penilaian “dalam proses” yang dapat dilakukan melalui:
1.      Mengamati partisispasi dan aktivitas peserta selama kegiatan berlangsung
2.      Mengungkapkan pemahaman peserta atas materi yang dibahas
3.      Mengungkapkan kegunaan layanan bagi mereka dan perolehan mereka sebagai hasil dari keikutsertaan  mereka
4.      Mengungkapkan minat dan sikap mereka tentang kemungkinan kegiatan lanjutan
5.      Mengungkapkan kelancaran proses dan suasana penyeenggaraan layanan
Hasil penilaian berupa deskripsi yang menyangkut aspek-aspek proses dan isi penyelenggaraan bimbingan kelompok baik yang menyangkut penyelenggaraan itu sendiri maupun pesertanya.
E.     Analisis dan Tindak Lanjut
Hasil penilaian kegiatan layanan perlu perlu dianalisis untuk mengetahui lebih lanjut seluk beluk kemajuan para peserta dan seluk-beluk penyelenggaraan layanan. Perlu dikaji apakah hasil-hasil pembahasan atau pemecahan masalah sudah dilakukan sedalam atau setuntas mungkin, atau sebenarnya masih ada aspek-aspek penting yang belum dijangkau dalampembahasan itu. Dalam analisis itu Guru Pembimbing sebagai pemimpin dan pembimbing kelompok perlu meninjau kembali :
a.       Penumbuhan dan jalannya dinamika kelompok.
b.      Peranan dan aktivitas sebagai peserta.
c.       Homogenitas/heteregonitas anggota kelompok.




Daftar Pustaka

Sukari, Ketut., Dan Nila Kusmawati. 2008. Proses Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta : PT Rhineka Cipta.
Prayitno., Amti, Erman. 2008. DASAR-DASAR BIMBINGAN KONSELING. Jakarta : PT Rhineka Cipta.
Prayitno. 1997. PELAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING. Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah.
Hikmawati, Fenti. 2011. Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Rajawali Pers.
Hartinah, Sitti. 2009. KONSEP DASAR BIMBINGAN KELOMPOK. Bandung : Refika Aditama
Ermawan, Yan. 2011. PERSIAPAN DAN PELAKSANAAN BIMBINGAN KELOMPOK. from : http://yanermawan.blogspot.com/2011/07/persiapan-dan-pelaksanaan-layanan.html di akses pada tanggal 1 november 2012

Sabtu, 30 Maret 2013

Pemimpin Kelompok

Pemimpin Kelompok


  1. Syarat
Menurut Prof. Mungin Eddy W ( 2005:118) ada beberapa syarat menjadi pemimpin kelompok yaitu:
1.    Kepribadian dan Karakter pemimpin kelompok
  • Kehadiran,pemimpin kelompok bisa hadir secara emosional pada penggalaman orang lain.
  • Kekuatan pribadi,meliputi kepercayaan diri dan kesadaran akan pengaruh sesorang kepada orang lain.
  • Keberaniana, pemimpin kelompok yang efektif harus sadar bahea mereka perlu menunjukan keberanian dalam interaksi dengan anggotanya.
  • Kemauan untuk mengkonfrontasi diri sendiri,menunjukan keberanian bukan hanya pada cara- cara berhubungan dengan kelompok tetapi dengan berhubungan dengan diri mereka sendiri juga.
  • Kesadaran diri, berbarengan dengan hal menghadapi diri sendiri. Ciri esensial dari kepemimpinan efektif adalah kesadaran akan diri sendiri, akan kebutuhan dan motivasi – motivasi seseorang,akan konflik atau masalah – masalah pribadi,akan bertahanan dan titik kelemahan,akan bidang usaha – uasaha yang belum selesai.
  • Kesungguhan/ketulusan, minat yang tulus dan sungguh – sungguh pada kesejahteraan orang lain dan kemampuan untuk berkembang secara konstruktif.
  • Keaslian (authenticity) ,pemimpin menjadi sesorang yang asli,nyata atau rill,kongruen dan jujur.
  • Mengerti identitas, bila akan menolong orang lain,pemimpin kelompok perlu memiliki pengertian yang jelas tentang identitas diri mereka sendiri.
  • Keyakinan / kepercyaan dalam proses kelompok,merupakan esensi keberhasilan dari proses kelompok.
  • Kegairahan (antusiasme)
  • Daya cipta dan kreatif
  • Daya tahan (stamina)
Menurut Trait Theories of Leadership di dalam buku Dinamika Kelompok karangan Slamet Santosa menyebutkan ciri seseorang dapat dikatakan pemimpin adalah :
  1. Intelegensi bahwa pemimpin memiliki intelegensi lebih dari yang lain.
  2. Kematangan sosial dan pengetahuan luas.
  3. Memiliki motivasi sendiri dan dorongan berprestasi.
  4. Sikap untuk meyakini hubungan dengan orang lain.
Menurut Floyd ruch dan Stogdill dalam buku Dinamika Kelompok karangan Slamet Santosa menyebutkan syarat pemimpin  adalah :
  1. Social perception, pemimpin harus dapat memiliki ketajaman dalam menghadapi situasi.
  2. Ability in abstract thinking, pemimpin harus memiliki kecakapan secara abstrak terhadap masalah yang dihadapi.
  3. Emotional stability, pemimpin harus memiliki perasaan yang stabil, tidak mudah terkena pengaruh dari pihak luar.


Pemimpin kelompok memiliki peran penting dalam rangka membawa para anggotanya menuju suasana yang mendukung tercapainya tujuan bimbingan kelompok. Sebagaimana yang dikemukakan Prayitno (1995: 35-36) bahwa peranan pemimpin kelompok ialah:
1.    Pemimpin kelompok dapat memberikan bantuan, pengarahan ataupun campur tangan langsung terhadap kegiatan kelompok. Campur tang ini meliputi, baik hal-hal yang bersifat isi dari yang dibicarakanmaupun yang mengenai proses kegiatan itu sendiri
2.    Pemimpin kelompok memusatkan perhatian pada suasana yang berkembang dalam kelompok itu, baik perasaan anggota-anggota tertentu maupun keseluruhan kelompok. Pemimpin kelompok dapat menanyakan suasanan perasaan yang dialami itu.
3.    Jika kelompok itu tampaknya kurang menjurus kearah yang dimaksudkan maka pemimpin kelompok perlu memberikan arah yang dimaksudkan itu.
4.    Pemimpin kelompok juga perlu memberikan tanggapan (umpan balik) tentang berbagai hal yang terjadidalam kelompok, baik yang bersifat isi maupun proses kegiatan kelompok.
5.    Lebih jauh lagi, pemimpin kelompok juga diharapkan mampu mengatur “lalu lintas” kegiatan kelompok, pemegang aturan permainan (menjadi wasit), pendamai dan pendorong kerja sama serta suasana kebersamaan. Disamping itu pemimpin kelompok, diharapkan bertindak sebagai penjaga agar apapun yang terjadi di dalam kelompok itu tidak merusak ataupun menyakiti satu orang atau lebih anggota kelompok sehingga ia / mereka itu menderita karenanya.
6.    Sifat kerahasiaan dari kegiatan kelompok itu dengan segenap isi dan kejadian-kejadian yang timbul di dalamnya, juga menjadi tanggung jawab pemimpin kelompok.

B.    Tugas dan Peranan
Menurut Prof. Munggin (2005 : 107-105)D tugas dari pemimpin kelompok adalah :
1)    Membuat dan Mempertahankan Kelompok
Pemimpin mempunyai tugas untuk membentuk dan mempertahankan kelompok. Melalui wawancara awal dengan calon anggota dan melalui seleksi yang baik, pemimpin kelompok membentuk konseling.
2)    Membentuk budaya
Setelah kelompok terbentuk, pemimpin kelompok mengupayakan agar kelompok menjadi sistem sosial yang terapeutik kemudian dicoba menumbuhkan norma – norma yang dipakai sebagai pedoman interaksi kelompok.
3)    Membentuk norma – norma
Norma – norma di dalam kelompok dibentuk berdasarkan harapan anggota kelompok terhadap kelompok dan pengaruh langsung maupun tidak langsung dari pemimpin dan anggota yang lebih pengaruh.
Menurut Prayitno peran pemimpin kelompok adalah :
  1. Pembentukan kelompok dari sekumpulan (calon) peserta.
  2. Penstrukturan, yaitu membahas bersama anggota kelompok apa, mengapa dn bagaimana layanan BKp atau KKp dilaksanakan.
  3. Pertahapan kegiatan BKp dan KKp
  4. Tindak lanjut layanan.
C.    Keterampilan yang harus dimiliki
Pemimpin kelompok harus menguasai dan mengembangkan kemampuan atau ketrampilan dan sikap  untuk terselenggaranya kegiatan kelompok. Ketrampilan dan sikap yang perlu dimiliki menurut Prof. Mungin(2005 :123 – 130 ) meliputi :
  1. Aktif mendengar
  2. Refleksi
  3. Menguraikan dan menjelaskan pertanyaan.
  4. Meringkas.
  5. Penjelasan singkat dan pemberian informasi
  6. Mendorong dan mendukung
  7. Pengaturan nada suara
  8. Pemberian model dan penyiapan diri.
  9. Penggunaan mata.

DAFTAR PUSTAKA
Dewa, Ketut S. 2002. Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.
Eddy, Wibowo Mungin. 2005. Konseling Kelompok Perkembangan. Semarang: Unnes Press.
Mugiarso, Heru dkk. 007. Bimbingan dan Konseling. Semarang : UPT UNNES PRESS.
Prayitno. 1995. Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok. Jakarta : Ghalia Indonesia.
Romlah, Tatik. 2001. Teori dan Praktik Bimbingan Kelompok. Malang : Universitas Negeri Malang.
Santosa ,Slamet.2004. Dinamika Kelompok.jakarta : PT . Bumi Aksara.
W. S. Winkel dan M.M. Sri Hastuti. 2004. Bimbingan Dan Konseling Di Institusi Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi.

Selasa, 26 Maret 2013


RASIONEL BIMBINGAN DAN KONSELING KELOMPOK DALAM BIMBINGAN KONSELING



Kelompok terjelma dari kupulan sejumlah orang yang kedalamnya ditumbuhkan atai diberikan “kualitas” tertentu sehingga “kumpulan kuantitatif” orang-orang itu memiliki “kebersamaan kualitatif” yang menghidupkan kelompok itu. Faktor-faktor pengikat dalam kelompok sebagaimana diungkapkan terdahulu merupakan faktor-faktor yang yang menimbulkan “:kebersamaan kualitati” itu. “kebersamaan kualitatif” itulah yang memungkinkan sejumlah orang yang berkumpul itu menjadi “hidup” dan menjalankan kehidupan kelompok.
Kelompok yang baik ialah apabila kelompok itu diwarnai oleh semangat yang tinggi,kerja samayang lancar dan mantap, serta adanya saling mempercayai di antara angota-anggotanya. Kelompok yang baik seperti itu akan terwujud apabila para anggotanya saling bersikap sebagai kawan dalam arti yang sebenarnya, mengerti dan menerima secara positif tujuan bersama, dengan kuat merasa setia kepada kelompok, serta mau bekerja keras atau bahkan berkorban untuk kelompok. Kekuatan yang mendorong kehidupan kelompok itu dikenal sebagai dinamika kelompok.
Kelompok yang baik ditumbuhkan (melalui dinamika kelompok itu sendiri), oleh anggota-anggotanya, tetapi juga sebaliknya kelompok yang baik dapat membentuk anggota-anggota menjadi anggota kelompok yang baik (juga melalui dinamika kelompoknya sendiri).
Faktor-faktor yang dapat memengaruhi kualitas kelompok:
  1. Tujuan dan kegiatan kelompok.
  2. Jumlah anggita.
  3. Kualitas pribadi masing-masing anggota kelompok.
  4. Kedududkan kelompok.
  5. Kemampuan kelompok untuk memenuhi kebutuhan anggota.
Kondisi positif yang ada pada faktor-faktor tersebut di atas akan dapat menunjang terhadap berfungsinya kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Namun ada satu faktor yang sangat penting dan tidak boleh ditinggalkan yaitu tumbuh dan berkembangnya dinamika kelompok. Faktor yang disebutkan diatas bisa jadi baik namun tanpa berjalannya dinamika kelompok maka kineja kelompok tersebut diragukan kehandalannya.
Dinamika kelompok merupakan sinergi dari semua faktor yang ada dalam suatu kelompok, artinya merupakan pengerahan secara serentak semua faktor yang dapat digerakkan dalam kelompok itu. Dengan demikian, dinamika kelompok merupakan jiwa yang menghidupkan dan menghidupi suatu kelompok.
Layanan dengan pendekatan kelompok dalam bimbingan dan konseling merupakan bentuk usaha pemberian bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan. Suasana kelompok, yaitu antarhubungan dari semua orang yang terlibat dalam kelompok, dapat merupakan wahana di mana masing-masing anggota kelompok itu (secara perorangan) dapat memanfaatkan semua informasi, tanggapan, dan reaksi dari anggota kelompok lainnya untuk kepentingan dirinya yang bersangkut paut dengan pengembangan diri anggota kelompok yang bersangkutan. Dari segi lain, kesempatan mengemukakan pendapat, tanggapan, dan berbagai reaksi pun dapat merupakan peluang yang amat berharga bagi perorangan yang bersangkutan. Kesempatan timbal balik inilah yang merupakan dinamika dari kehidupan kelompok (dinamika kelompok) yang akan membawakan kemanfaatan bagi para anggotanya. Apabila disebut “kemanfaatan” di sini, tidaklah berarti bahwa suasana kelompok selalu serba menyenangkan, melegakan, ataupun bersifatmenguuntungkan bagisetiap anggota kelompok.  Suasana kelompok kadang-kadang terkadang terasa mencekam, merisaukan, ataupun “merugikan”. Namun demikian, betapa pun suasana kelompok itu, dirasakan sebagai suasana yang positif ataupun negatif, pada akhirnya, terutama pada bidang bimbingan dan konseling kelompok, diharapkan dapat merupakan sumbangan bagi pengembangan pribadi dan pemerkayaan masing-masing anggota kelompok.
Melalui dinamika kelompok setiap anggota kelompok diharapkan mampu tegak sebagai perorangan yang sedang mengembangkan kediriannya dalam hubungannya dengan orang lain. Ini tidak berarti bahwa kedirian seseorang seseorang lebih ditonjolkan daripada kehidupan kelompok secara umum. Pengembangan pribadi kedirian tidak boleh merusak pribadi oranglain, dan juga sebaliknya.
Pengembangan pribadi kedirian dan kepentingan orang lain atau kelompok harus dapat saling menghidupi sehingga tercapai suatu keselarasan, keserasian, dan keseimbangan diantara keduanya, yaitu antara tuntutan pribadi dan tuntutan atau kepentingan sosial. Masing-masing perorangan hendaklah mampu mewujudkan kediriannya secara penuh dengan selalu mengingat kepentingan orang lain. Dalam hal ini, layanan kelompok dalam bimbingan dan konseling menjadi tenpat pengembangan sikap, ketrampilan dan keberanian sosial yang bertenggang rasa. Inilah mungkin yang menjadi kekhususan sifat pendekatan kelompok kita bila dibandingkan dengan pendekatan kelompok dibandingkan dunia lain yang lebih mementingkan perkembangan pribadi kedirian masing-masing anggota kelompok.
Secara khusus, dinamika kelompok dapat dimanfaatkan untuk pemecahan masalah pribadi anggota kelompok, apabila interaksi dalam kelompok itu difokuskan pada pemecahan masalah pribadi yang dimaksudkan.
Dalam kegiatan bimbingan dan konseling, kelompok-kelompok yang digunakan adalah kelompok sekunder, psikologikal, tidak terorganisasi, dan informal. Selain itu dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling melalui pendekatan kelompok ada dua jenis kelompok yang dapat dikembangkan, yaitu kelompok bebas dan kelompok tugas. Kelompok bebas melakukan kegiatan kelompok tanpa penugasan tertentu, dan keidupan kelompok itu memang tidak disiapkan secara khusus sebelumnya. Dalam kelompok tugas arah dan isi kegiatan kelompok ditetapkan terlebih dahulu. Kelompok tugas diberi tugas untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, baik yang berasal dari luar kelompok atau yang timbul dari dalam kelompok tersebut.
Meskipun dalam elompok tugas masing-masing anggta terikat pada penyelesaian tugas, namun pengembangan kedirian yang bertengang rasa pada setiap anggota tidak boleh diabaikan. Tugas yangditetapkan untuk digarap oleh suatu kelompok tugas sebenarnya adalah suatu sangkutan semata untuk mengarahkan kegiatan kelompok. Penyelesaian tugas itu bukan merupakan tujuan dari anggota kelompok, melainkan alat yang merupakan arah dan titik tumpu kehidupan kelompok yang dinamis.


DAFTAR PUSTAKA


Prayitno. 1995. Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok (Dasar dan Profil). Jakarta: Ghalia Indonesia

KONSEP DASAR DAN MISSKONSEPSI BIMBINGAN DAN KONSELING KELOMPOK


A Pengertian Dasar
Layanan Konseling Kelompok (KKp) dan/atau Bimbingan Kelompok (BKp) merupakan jenis layanan koseling yang mengikutkan sejumlah peserta dalam bentuk kelompok, dengan konselor sebagai pemimpin kelompok. Layanan ini mengaktifkan dinamika kelompok untuk membahas berbagai hal yang berguna bagi pengembangan pribadi dan/atau pemecahan masalah individu yang menjadi peserta kegiatan kelompok.
Dalam BKp dibahas topik-topik umum yang menjadi kepedulian bersama anggota kelompok, sedangkan dalam KKp dibahas masalah pribadi yang dialami masing-masing anggota kelompok. Di manapun kedua jenis layanan ini dilaksanakan, harus terjamin bahwa dinamika kelompok dapat berkembang dengan sebaik-baiknya untuk mencapai tujuan kelompok.

B.    Tujuan Bimbingan dan Konseling Kelompok
Tujuan umum layanan BKp dan/atau KKp adalah berkembangnya kemampuan sosialisasi anggota kelompok, khususnya kemampuan dalam berkomunikasi.
Secara khusus tujuan BKp dan KKp adalah sebagai berikut:
a)    BKp bertujuan membahas topik-topik tertentu yang  mengandung permasa-lahan actual dan menjadi perhatian anggota kelompok. Melalui dinamika kelompok yang intensif, pembahasan topic-topik itu mendorong pengembangan perasaan, pikiran, persepsi, wawasan, dan sikap yang menunjang diwujudkannya tingkah laku yang lebih efektif. Dalam hal ini kemampuan berkomunikasi, verbal maupun non verbal, ditingkatkan.
b)    KKp terfokus pada pembahasan masalah pribadi salah satu anggota kelompok secara bergantian. Melalui layanan kelompok yang intensif dalam upaya pemecahan masalah tersebut para anggota kelompok memperoleh dua tujuan sekaligus, yaitu :
a.    terkembangkannya perasaan, pikiran, persepsi, wawasan, dan sikap terarah pada ting-kah laku khususnya dalam bersosialisasi/komunikasi
b.    terpecahkannya masalah individu yang bersangkutan dan diperolehnya imbasan pemecahan masalah tersebut bagi anggota kelompok yang lain.

C.    Komponen Bimbingan dan Konseling Kelompok
1.    Konselor: sebagai pemimpin kelompok dengan kemampuan
•    Menciptakan suasana kelompok sehingga terciptanya dinamika kelompok
•    Berwawasan luas (ilmiah dan moral).
•    Mampu membina hubungan antarpersonal yang hangat, damai, berbagi, empatik, altruistik, jauh dari kesukaaan untuk membuat kelompok.
Peranan PK:
•    Membentuk kelompok
•    Melakukan penstrukturan
•    Mengembangkan dinamika kelompk
•    Mengevaluasi proses dan hasil belajar
Jumlah kelompok: 8-10 orang dengan memperhatikan homogenitas dan heterogenitas kemampuan anggota kelompok. Kemampuan dengan perbandingan 2:1 antara yang pintar atau kurang pintar. Dari segi jenis pria atau wanita yaitu 1:1.
Peran anggota kelompok:
a.    Aktif, mandiri melaui aktivitas langsung melalui sikap 3M (mendengar dengan aktif, memahami dengan positif dan merespon dengan tepat), sikap seperti seorang konselor.
b.    Berbagi pendapat, ide dan pengalaman
c.    Empati
d.    Menganalisa
e.    Aktif membina keakraban, membina keikatan emosional
f.    Mematuhi etika kelompok
g.    Menjaga kerahasiaan, perasaan dan membantu serta
h.    Membina kelompok untuk untuk menyukseskan kegiatan kelompok.

D.    Asas Bimbingan dan Konseling Kelompok
Dalam Bimbingan kelompok, asas yang dipakai:
a.    Kesukarelaan : Tidak ada pemaksaan dalam mengemukakan pendapat.
b.    Keterbukaan : Adalah keterusterangan dalam memberikan pendapat.
c.    Kegiatan: Partisipasi semua anggota kelompok dalam mengemukakan pendapat sehingga cepat tercapainya tujuan Bimbingan kelompok.
d.    Kenormatifan : Aturan dalam menyampaikan ide dan gagasan hendaknya dengan baik, benar, gaya bahasa yang menyenangkan, tidak menyalahkan anggota kelompok.
e.    Kerahasiaan : ini terakhir karena topic (pokok bahasan) bersifat umum.

E.    Langkah-langkah umum bimbingan dan konseling kelompok:
a.    Pembentukan
b.    Peralihan
c.    Kegiatan
d.    Pengakhitan 

F.    Kesalahpahaman dalam Bimbingan dan Konseling Kelompok:
Bimbingan dan konseling kelompok sering diartikan sempit dan sederhana, dan justru kadang-kadang tidak terkait dengan makna bimbingan dan konseling yang sebenarnya. Beberapa kesalahpahaman masih hidup diantara mereka yang hidup di lingkungan bimbingan konseling, yaitu:
a.    Kerancuan antara bimbigan kelompok dan membimbing kelompok
b.    Bimbingan kelompok sering disamakan saja dengan kegiatan kelompok
c.    Bimbingan kelompok sering disamakan dengan diskusi
d.    Bimbingan kelompok hanya membahas masalah yang sama
e.    Bimbingan kelompok hanya difokuskan pada pemberian informasi
Daftar Pustaka


Gazda, George M. 1984. Group Counseling A developmental Approach. Third Edition.  Toronto : Allyn And Bacon, Inc.
Prayitno, 1995. Layanan Bimbingan&Konseling Kelompok :Dasar &Profil. Cetakan Pertama. Jakarta : Ghalia Indonesia.
Prayitno. 2005. Layanan Bimbingan Kelompok, Konseling Kelompok. Padang : FIP Universitas Negeri Padang
Dewa, Ketut S. 2002. Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.
Eddy, Wibowo Mungin. 2005. Konseling Kelompok Perkembangan. Semarang: Unnes Press.
Mugiarso, Heru dkk. 007. Bimbingan dan Konseling. Semarang : UPT UNNES PRESS.
Prayitno. 1995. Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok. Jakarta : Ghalia Indonesia.
Romlah, Tatik. 2001. Teori dan Praktik Bimbingan Kelompok. Malang : Universitas Negeri Malang.
Santosa ,Slamet.2004. Dinamika Kelompok.jakarta : PT . Bumi Aksara.
W. S. Winkel dan M.M. Sri Hastuti. 2004. Bimbingan Dan Konseling Di Institusi Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi.



   


 
Free Website templateswww.seodesign.usFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesAgence Web MarocMusic Videos OnlineFree Wordpress Themeswww.freethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree CSS Templates Dreamweaver