Selasa, 26 Maret 2013


RASIONEL BIMBINGAN DAN KONSELING KELOMPOK DALAM BIMBINGAN KONSELING



Kelompok terjelma dari kupulan sejumlah orang yang kedalamnya ditumbuhkan atai diberikan “kualitas” tertentu sehingga “kumpulan kuantitatif” orang-orang itu memiliki “kebersamaan kualitatif” yang menghidupkan kelompok itu. Faktor-faktor pengikat dalam kelompok sebagaimana diungkapkan terdahulu merupakan faktor-faktor yang yang menimbulkan “:kebersamaan kualitati” itu. “kebersamaan kualitatif” itulah yang memungkinkan sejumlah orang yang berkumpul itu menjadi “hidup” dan menjalankan kehidupan kelompok.
Kelompok yang baik ialah apabila kelompok itu diwarnai oleh semangat yang tinggi,kerja samayang lancar dan mantap, serta adanya saling mempercayai di antara angota-anggotanya. Kelompok yang baik seperti itu akan terwujud apabila para anggotanya saling bersikap sebagai kawan dalam arti yang sebenarnya, mengerti dan menerima secara positif tujuan bersama, dengan kuat merasa setia kepada kelompok, serta mau bekerja keras atau bahkan berkorban untuk kelompok. Kekuatan yang mendorong kehidupan kelompok itu dikenal sebagai dinamika kelompok.
Kelompok yang baik ditumbuhkan (melalui dinamika kelompok itu sendiri), oleh anggota-anggotanya, tetapi juga sebaliknya kelompok yang baik dapat membentuk anggota-anggota menjadi anggota kelompok yang baik (juga melalui dinamika kelompoknya sendiri).
Faktor-faktor yang dapat memengaruhi kualitas kelompok:
  1. Tujuan dan kegiatan kelompok.
  2. Jumlah anggita.
  3. Kualitas pribadi masing-masing anggota kelompok.
  4. Kedududkan kelompok.
  5. Kemampuan kelompok untuk memenuhi kebutuhan anggota.
Kondisi positif yang ada pada faktor-faktor tersebut di atas akan dapat menunjang terhadap berfungsinya kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Namun ada satu faktor yang sangat penting dan tidak boleh ditinggalkan yaitu tumbuh dan berkembangnya dinamika kelompok. Faktor yang disebutkan diatas bisa jadi baik namun tanpa berjalannya dinamika kelompok maka kineja kelompok tersebut diragukan kehandalannya.
Dinamika kelompok merupakan sinergi dari semua faktor yang ada dalam suatu kelompok, artinya merupakan pengerahan secara serentak semua faktor yang dapat digerakkan dalam kelompok itu. Dengan demikian, dinamika kelompok merupakan jiwa yang menghidupkan dan menghidupi suatu kelompok.
Layanan dengan pendekatan kelompok dalam bimbingan dan konseling merupakan bentuk usaha pemberian bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan. Suasana kelompok, yaitu antarhubungan dari semua orang yang terlibat dalam kelompok, dapat merupakan wahana di mana masing-masing anggota kelompok itu (secara perorangan) dapat memanfaatkan semua informasi, tanggapan, dan reaksi dari anggota kelompok lainnya untuk kepentingan dirinya yang bersangkut paut dengan pengembangan diri anggota kelompok yang bersangkutan. Dari segi lain, kesempatan mengemukakan pendapat, tanggapan, dan berbagai reaksi pun dapat merupakan peluang yang amat berharga bagi perorangan yang bersangkutan. Kesempatan timbal balik inilah yang merupakan dinamika dari kehidupan kelompok (dinamika kelompok) yang akan membawakan kemanfaatan bagi para anggotanya. Apabila disebut “kemanfaatan” di sini, tidaklah berarti bahwa suasana kelompok selalu serba menyenangkan, melegakan, ataupun bersifatmenguuntungkan bagisetiap anggota kelompok.  Suasana kelompok kadang-kadang terkadang terasa mencekam, merisaukan, ataupun “merugikan”. Namun demikian, betapa pun suasana kelompok itu, dirasakan sebagai suasana yang positif ataupun negatif, pada akhirnya, terutama pada bidang bimbingan dan konseling kelompok, diharapkan dapat merupakan sumbangan bagi pengembangan pribadi dan pemerkayaan masing-masing anggota kelompok.
Melalui dinamika kelompok setiap anggota kelompok diharapkan mampu tegak sebagai perorangan yang sedang mengembangkan kediriannya dalam hubungannya dengan orang lain. Ini tidak berarti bahwa kedirian seseorang seseorang lebih ditonjolkan daripada kehidupan kelompok secara umum. Pengembangan pribadi kedirian tidak boleh merusak pribadi oranglain, dan juga sebaliknya.
Pengembangan pribadi kedirian dan kepentingan orang lain atau kelompok harus dapat saling menghidupi sehingga tercapai suatu keselarasan, keserasian, dan keseimbangan diantara keduanya, yaitu antara tuntutan pribadi dan tuntutan atau kepentingan sosial. Masing-masing perorangan hendaklah mampu mewujudkan kediriannya secara penuh dengan selalu mengingat kepentingan orang lain. Dalam hal ini, layanan kelompok dalam bimbingan dan konseling menjadi tenpat pengembangan sikap, ketrampilan dan keberanian sosial yang bertenggang rasa. Inilah mungkin yang menjadi kekhususan sifat pendekatan kelompok kita bila dibandingkan dengan pendekatan kelompok dibandingkan dunia lain yang lebih mementingkan perkembangan pribadi kedirian masing-masing anggota kelompok.
Secara khusus, dinamika kelompok dapat dimanfaatkan untuk pemecahan masalah pribadi anggota kelompok, apabila interaksi dalam kelompok itu difokuskan pada pemecahan masalah pribadi yang dimaksudkan.
Dalam kegiatan bimbingan dan konseling, kelompok-kelompok yang digunakan adalah kelompok sekunder, psikologikal, tidak terorganisasi, dan informal. Selain itu dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling melalui pendekatan kelompok ada dua jenis kelompok yang dapat dikembangkan, yaitu kelompok bebas dan kelompok tugas. Kelompok bebas melakukan kegiatan kelompok tanpa penugasan tertentu, dan keidupan kelompok itu memang tidak disiapkan secara khusus sebelumnya. Dalam kelompok tugas arah dan isi kegiatan kelompok ditetapkan terlebih dahulu. Kelompok tugas diberi tugas untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, baik yang berasal dari luar kelompok atau yang timbul dari dalam kelompok tersebut.
Meskipun dalam elompok tugas masing-masing anggta terikat pada penyelesaian tugas, namun pengembangan kedirian yang bertengang rasa pada setiap anggota tidak boleh diabaikan. Tugas yangditetapkan untuk digarap oleh suatu kelompok tugas sebenarnya adalah suatu sangkutan semata untuk mengarahkan kegiatan kelompok. Penyelesaian tugas itu bukan merupakan tujuan dari anggota kelompok, melainkan alat yang merupakan arah dan titik tumpu kehidupan kelompok yang dinamis.


DAFTAR PUSTAKA


Prayitno. 1995. Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok (Dasar dan Profil). Jakarta: Ghalia Indonesia

KONSEP DASAR DAN MISSKONSEPSI BIMBINGAN DAN KONSELING KELOMPOK


A Pengertian Dasar
Layanan Konseling Kelompok (KKp) dan/atau Bimbingan Kelompok (BKp) merupakan jenis layanan koseling yang mengikutkan sejumlah peserta dalam bentuk kelompok, dengan konselor sebagai pemimpin kelompok. Layanan ini mengaktifkan dinamika kelompok untuk membahas berbagai hal yang berguna bagi pengembangan pribadi dan/atau pemecahan masalah individu yang menjadi peserta kegiatan kelompok.
Dalam BKp dibahas topik-topik umum yang menjadi kepedulian bersama anggota kelompok, sedangkan dalam KKp dibahas masalah pribadi yang dialami masing-masing anggota kelompok. Di manapun kedua jenis layanan ini dilaksanakan, harus terjamin bahwa dinamika kelompok dapat berkembang dengan sebaik-baiknya untuk mencapai tujuan kelompok.

B.    Tujuan Bimbingan dan Konseling Kelompok
Tujuan umum layanan BKp dan/atau KKp adalah berkembangnya kemampuan sosialisasi anggota kelompok, khususnya kemampuan dalam berkomunikasi.
Secara khusus tujuan BKp dan KKp adalah sebagai berikut:
a)    BKp bertujuan membahas topik-topik tertentu yang  mengandung permasa-lahan actual dan menjadi perhatian anggota kelompok. Melalui dinamika kelompok yang intensif, pembahasan topic-topik itu mendorong pengembangan perasaan, pikiran, persepsi, wawasan, dan sikap yang menunjang diwujudkannya tingkah laku yang lebih efektif. Dalam hal ini kemampuan berkomunikasi, verbal maupun non verbal, ditingkatkan.
b)    KKp terfokus pada pembahasan masalah pribadi salah satu anggota kelompok secara bergantian. Melalui layanan kelompok yang intensif dalam upaya pemecahan masalah tersebut para anggota kelompok memperoleh dua tujuan sekaligus, yaitu :
a.    terkembangkannya perasaan, pikiran, persepsi, wawasan, dan sikap terarah pada ting-kah laku khususnya dalam bersosialisasi/komunikasi
b.    terpecahkannya masalah individu yang bersangkutan dan diperolehnya imbasan pemecahan masalah tersebut bagi anggota kelompok yang lain.

C.    Komponen Bimbingan dan Konseling Kelompok
1.    Konselor: sebagai pemimpin kelompok dengan kemampuan
•    Menciptakan suasana kelompok sehingga terciptanya dinamika kelompok
•    Berwawasan luas (ilmiah dan moral).
•    Mampu membina hubungan antarpersonal yang hangat, damai, berbagi, empatik, altruistik, jauh dari kesukaaan untuk membuat kelompok.
Peranan PK:
•    Membentuk kelompok
•    Melakukan penstrukturan
•    Mengembangkan dinamika kelompk
•    Mengevaluasi proses dan hasil belajar
Jumlah kelompok: 8-10 orang dengan memperhatikan homogenitas dan heterogenitas kemampuan anggota kelompok. Kemampuan dengan perbandingan 2:1 antara yang pintar atau kurang pintar. Dari segi jenis pria atau wanita yaitu 1:1.
Peran anggota kelompok:
a.    Aktif, mandiri melaui aktivitas langsung melalui sikap 3M (mendengar dengan aktif, memahami dengan positif dan merespon dengan tepat), sikap seperti seorang konselor.
b.    Berbagi pendapat, ide dan pengalaman
c.    Empati
d.    Menganalisa
e.    Aktif membina keakraban, membina keikatan emosional
f.    Mematuhi etika kelompok
g.    Menjaga kerahasiaan, perasaan dan membantu serta
h.    Membina kelompok untuk untuk menyukseskan kegiatan kelompok.

D.    Asas Bimbingan dan Konseling Kelompok
Dalam Bimbingan kelompok, asas yang dipakai:
a.    Kesukarelaan : Tidak ada pemaksaan dalam mengemukakan pendapat.
b.    Keterbukaan : Adalah keterusterangan dalam memberikan pendapat.
c.    Kegiatan: Partisipasi semua anggota kelompok dalam mengemukakan pendapat sehingga cepat tercapainya tujuan Bimbingan kelompok.
d.    Kenormatifan : Aturan dalam menyampaikan ide dan gagasan hendaknya dengan baik, benar, gaya bahasa yang menyenangkan, tidak menyalahkan anggota kelompok.
e.    Kerahasiaan : ini terakhir karena topic (pokok bahasan) bersifat umum.

E.    Langkah-langkah umum bimbingan dan konseling kelompok:
a.    Pembentukan
b.    Peralihan
c.    Kegiatan
d.    Pengakhitan 

F.    Kesalahpahaman dalam Bimbingan dan Konseling Kelompok:
Bimbingan dan konseling kelompok sering diartikan sempit dan sederhana, dan justru kadang-kadang tidak terkait dengan makna bimbingan dan konseling yang sebenarnya. Beberapa kesalahpahaman masih hidup diantara mereka yang hidup di lingkungan bimbingan konseling, yaitu:
a.    Kerancuan antara bimbigan kelompok dan membimbing kelompok
b.    Bimbingan kelompok sering disamakan saja dengan kegiatan kelompok
c.    Bimbingan kelompok sering disamakan dengan diskusi
d.    Bimbingan kelompok hanya membahas masalah yang sama
e.    Bimbingan kelompok hanya difokuskan pada pemberian informasi
Daftar Pustaka


Gazda, George M. 1984. Group Counseling A developmental Approach. Third Edition.  Toronto : Allyn And Bacon, Inc.
Prayitno, 1995. Layanan Bimbingan&Konseling Kelompok :Dasar &Profil. Cetakan Pertama. Jakarta : Ghalia Indonesia.
Prayitno. 2005. Layanan Bimbingan Kelompok, Konseling Kelompok. Padang : FIP Universitas Negeri Padang
Dewa, Ketut S. 2002. Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.
Eddy, Wibowo Mungin. 2005. Konseling Kelompok Perkembangan. Semarang: Unnes Press.
Mugiarso, Heru dkk. 007. Bimbingan dan Konseling. Semarang : UPT UNNES PRESS.
Prayitno. 1995. Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok. Jakarta : Ghalia Indonesia.
Romlah, Tatik. 2001. Teori dan Praktik Bimbingan Kelompok. Malang : Universitas Negeri Malang.
Santosa ,Slamet.2004. Dinamika Kelompok.jakarta : PT . Bumi Aksara.
W. S. Winkel dan M.M. Sri Hastuti. 2004. Bimbingan Dan Konseling Di Institusi Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi.



   


Selasa, 29 Januari 2013

BASELINE

A.    Pengertian Baseline
Baseline data adalah informasi dasar yang dihimpun sebelum suatu program dimulai. Data ini kemudian digunakan sebagai pembanding untuk memperkirakan dampak programBaseline adalah kondisi dimana pengukuran target behavior dilakukan pada keadaan natural sebelum diberikan intervensi apapun. Kondisi eksperimen adalah kondisi dimana suatu intervensi telah diberikan dan target behavior diukur dibawah kondisi tersebut. Pada penelitian dengan desain subjek tunggal selalu dilakukan perbandingan antara fase baseline dengan sekurang-kurangnya satu fase intervensi. Desain penelitian pada bidang modifikasi perilaku dengan eksperimen kasus tunggal secara garis besar ada dua kategori yaitu sebagai berikut:
1.    Desain A-B
Desain A-B merupakan desain dasar dari penelitian eksperimen subjek tunggal. Prosedur desain ini disusun atas dasar apa yang disebut dengan logika baseline. Dalam melakukan penelitian dengan desain kasus tunggal akan selalu ada pengukuran target behavior pada fase baseline dan pengulangannya pada sekurang-kurangnya satu fase intervensi (Hasselt dan Hersen 1981). Desain-desain yang lain dari kasus tunggal yang lain sebenarnya merupakan variasi dan pengembangan dari desain A-B ini.
Prosedur utama yang ditempuh dalam desain A-B meliputi pengukuran target behavior pada fase baseline dan setelah trend dan level datanya stabil kemudian intervensi mulai diberikan. Jika terjadi perubahan target behavior pada fase intervensi setelah dibandingkan dengan baseline, diasumsikan perubahan tersebut karena adanya pengaruh dari variabel independen.
Pada desain A-B ini tidak ada replikasi (pengulangan) pengukuran dimana fase baseline (A) dan intervensi (B) masing-masing dilakuakn hanya sekali umtuk subjek yang sama. Tidak ada pengulangan pada fase baseline maupun fase intervensi sehingga tidak bisa membandingkan masing-masing kondisi tersebut.   

B.    Jenis Data Baseline
Ada dua jenis data baseline:
1.    Data baseline tetap, terkait erat dengan program yang diajukan dan dengan jelas diindikasikan oleh sasaran dan tujuan program.
2.    Data baseline tidak tetap, tidak secara jelas terkait dengan sasaran dan tujuan
program namun memberikan pemahaman latarbelakang yang berguna tentang
konteks sosiolinguistik dan budaya program.
Selain itu ada dua jenis data baseline lagi, yaitu:
•    Determinate baseline data: Data yang terkait secara langsung dengan program yang hendak dijalankan.
•    Indeterminate baseline data: Data yang tidak terkait secara langsung dengan program yang hendak dijalankan namun memberikan informasi berguna bagi perencanaan program.

C.    Langkah-Langkah Dalam Melakukan Studi Baseline:
1.    Merumuskan target program.
2.    Mengidentifikasi tim dan keahlian yang dibutuhkan
3.    Merumuskan informasi/data yang diperlukan.
4.    Menentukan metode penggalian data.
5.    Merumuskan instrumen penelitian. Mis: Kuisioner, daftar pertanyaan, dll.
6.    Melakukan ujicoba terhadap instrumen.
7.    Menentukan responden (kategori & jumlah).
8.    Mempersiapkan logistik dan jadwal penelitian.
9.    Melakukan penelusuran data.
10.    Menganalisa Data
11.    Menuliskan Laporan
12.    Mengevaluasi Proses Studi.


INTERPRETASI GRAFIK

A.    Pengertian Grafik Data
Grafik adalah lukisan dengan gambar/garis untuk mengetahui naik turunnya suatu keadaan dan grafik juga merupakan satu cara penyajian data secara ringkas biasanya menghubungkan antara variabel bebas (X) dengan variabel tidak bebas (Y). Tujuan membuat grafik adalah untuk memperhatikan perbandingan, informasi kwalitatif dengan cepat serta sederhana.

B.    Manfaat Grafik Data
Grafik data memiliki manfaat diantaranya adalah sebagai berikut:
•    Meringkas/rekapitulasi data, baik data kualitatif maupun kuantitatif
•    Grafik dapat membantu untuk mengambil kesimpulan yang cepat
•    Dapat digunakan untuk melakukan eksplorasi data
•    Membuat tabulasi silang dan diagram sebaran data

C.    Jenis Grafik Data
Berikut terdapat beberapa jenis grafik data, yaitu:
•    Grafik garis
    Grafik garis adalah yang paling tepat dari semua jenis grafik, terutama dalam melukiskan kecendrungan-kecendrungan atau menghubungkan dua rangkaian kata. Berikut contoh grafik garis:
•    Grafik batang
    Grafik batang mungkin yang paling sederhana daripada semua grafik, grafik batang paling bermanfaat bilamana sejumlah nilai yang akan di bandingkan relative sedikit, pada lazimnya grafik ini dibuat dengan menggunakan batang sebagai gambaran kelompok data secara vertical dan horizontal.tinggi atau panjang batang melukiskan ukuran besarnya presentase data yang diwakilinya. Contohnya adalah sebagai berikut:
•    Grafik lingkaran atau piring
    Bilamana guru dapat menjelaskan dan memperkenalkan tentang pecahan, maka garafik lingkaran lebih tepat di gunakan, grafik lingkaran atau grafik piring adalah lingkaran sektor-sektor yang di gunakan untuk menggunakan bagian suatu keseluruhan,sebagai contoh berikut ini adalah grafik yang memvisualisasikan pecahan dalam bentuk tengahan, pertigaan dan perempatan..
Ada dua ciri grafik lingkaran yaitu:
1.    Grafik itu selalu menunjukkkan jumlah atau keseluruhan jumlah
2.    Bagian-bagiannya atau segmennya di hitung dalam presentase atau bagian-bagian pecahan keseluruhan.



Pengaplikasian Grafik Data dalam Analisis Perubahan Tingkah Laku
Analisis tingkah laku adalah suatu prosedur yang diaksanakan secara bertahap yang dapat dipergunakan oleh guru untuk memperbaiki prestasi belajar dan tingkah laku siswa, maka dari itu diperlukan pengukuran, sebab pengukuran merupakan hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.













DAFTAR PUSTAKA


Tanpa nama. 26 September 2011. www.bloggrafik.com. Pkl. 20.00 WIB
Tanpa nama. 25 September 2011. www.blogdata/53hgghe/grafik.com. Pkl. 13.00 WIB

Minggu, 30 Desember 2012

Konseling Sebagai Pengubah Tingkah Laku



 
Setiap manusia pasti berkenalan dengan masalah, konflik dan situasi/kejadian yang tidak menyenangkan terkait dengan diri sendiri, orang lain maupun lingkungan sekitar. Hal ini merupakan hal yang wajar sebagai suatu tahapan dari pengalaman hidup dan perkembangan diri seseorang. Oleh karena itu, kita semua pasti mengalami atau memiliki saat-saat dimana diri kita merasa down (sedih, kecewa, tidak bersemangat, stres, depresi dll) ataupun malah sebaliknya merasa takut, cemas, terlalu bersemangat dll.
Banyak kejadian-kejadian dalam hidup ini yang dapat maupun tidak dapat dihindari yang membuat kita merasakan hal-hal seperti diatas. Ada kalanya pula kita dapat mengatasi masalah atau perasaan tersebut dengan baik namun ada kalanya dimana kita merasa stuck, bingung, cemas tanpa tahu harus mengadu kemana dan berfikir bahwa tidak ada seorang pun yang dapat membantu.
Konseling merupakan salah satu cara yang tepat untuk membantu mengatasi berbagai permasalahan-permasalahan dalam hidup. Konseling membantu kita untuk mengidentifikasi masalah, mencari solusi atau alternatif yang tepat dan menyadarkan akan adanya potensi dari setiap manusia untuk dapat mengatasi berbagai permasalahannya sendiri.
Salah satu tugas utama guru adalah berusaha mengembangkan perilaku peserta didiknya. Dalam hal ini, Abin Syamsuddin Makmun (2003) menyebutkan bahwa tugas guru antara lain sebagai pengubah perilaku peserta didik (behavioral changes). Oleh itu, agar perilaku peserta didik dapat berkembang optimal, tentu saja seorang guru seyogyanya dapat memahami tentang bagaimana proses dan mekanisme terbentuknya perilaku para peserta didiknya.
Untuk memahami perilaku individu dapat dilihat dari dua pendekatan, yang saling bertolak belakang, yaitu: (1) behaviorisme dan (2) holistik atau humanisme. Kedua pendekatan ini memiliki implikasi yang luas terhadap proses pendidikan, baik untuk kepentingan pembelajaran, pengelolaan kelas, pembimbingan serta berbagai kegiatan pendidikan lainnya.


A. Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Behaviorisme

Behaviorisme memandang bahwa pola-pola perilaku itu dapat dibentuk melalui proses pembiasaan dan penguatan (reinforcement) dengan mengkondisikan atau menciptakan stimulus-stimulus (rangsangan) tertentu dalam lingkungan. Behaviorisme menjelaskan mekanisme proses terjadi dan berlangsungnya perilaku individu dapat digambarkan dalam bagan berikut :

S > R atau S > O > R

S = stimulus (rangsangan); R = Respons (perilaku, aktivitas) dan O=organisme (individu/manusia).
Karena stimulus datang dari lingkungan (W = world) dan R juga ditujukan kepadanya, maka mekanisme terjadi dan berlangsungnya dapat dilengkapkan seperti tampak dalam bagan berikut ini :

W > S > O > R > W

Yang dimaksud dengan lingkungan (W = world) di sini dapat dibagi ke dalam dua jenis yaitu :

  1. Lingkungan objektif (umgebung=segala sesuatu yang ada di sekitar individu dan secara potensial dapat melahirkan S).
  2. Lingkungan efektif (umwelt=segala sesuatu yang aktual merangsang organisme karena sesuai dengan pribadinya sehingga menimbulkan kesadaran tertentu pada diri organisme dan ia meresponsnya)

Perilaku yang berlangsung seperti dilukiskan dalam bagan di atas biasa disebut dengan perilaku spontan.
Contoh : seorang mahasiswa sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa panas, secara spontan mahasiswa tersebut mengipas-ngipaskan buku untuk meredam kegerahannya.
Ruangan kelas yang panas merupakan lingkungan (W) dan menjadi stimulus (S) bagi mahasiswa tersebut (O), secara spontan mengipaskan-ngipaskan buku merupakan respons (R) yang dilakukan mahasiswa. Merasakan ruangan tidak terasa gerah (W) setelah mengipas-ngipaskan buku.

Sedangkan perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut:
W > S > Ow > R > W

Contoh : ketika sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa agak gelap karena waktu sudah sore hari ditambah cuaca mendung, ada seorang mahasiswa yang sadar kemudian dia berjalan ke depan dan meminta ijin kepada dosen untuk menyalakan lampu neon yang ada di ruangan kelas, sehingga di kelas terasa terang dan mahasiswa lebih nyaman dalam mengikuti perkuliahan.
Ruangan kelas yang gelap, waktu sore hari, dan cuaca mendung merupakan lingkungan (W), ada mahasiswa yang sadar akan keadaan di sekelilingnya (Ow), –meski di ruangan kelas terdapat banyak mahasiswa namun mereka mungkin tidak menyadari terhadap keadaan sekelilingnya–. berjalan ke depan, meminta ijin ke dosen, dan menyalakan lampu merupakan respons yang dilakukan oleh mahasiswa yang sadar tersebut (R), suasana kelas menjadi terang dan mahasiswa menjadi lebih menyaman dalam mengikuti perkuliahan merupakan (W).
Sebenarnya, masih ada dua unsur penting lainnya dalam diri setiap individu yang mempengaruhi efektivitas mekanisme proses perilaku yaitu receptors (panca indera sebagai alat penerima stimulus) dan effectors (syaraf, otot dan sebagainya yang merupakan pelaksana gerak R).
Dengan mengambil contoh perilaku sadar tadi, mahasiswa yang sadar (Ow) mungkin merasakan penglihatannya (receptor) menjadi tidak jelas, sehingga tulisan dosen di papan tulis tidak terbaca dengan baik. Menggerakkan kaki menuju ke depan, mengucapkan minta izin kepada dosen, tangan menekan saklar lampu merupakan effector.


B. Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Holistik (Humanisme)

Holistik atau humanisme memandang bahwa perilaku itu bertujuan, yang berarti aspek-aspek intrinsik (niat, motif, tekad) dari dalam diri individu merupakan faktor penentu untuk melahirkan suatu perilaku, meskipun tanpa ada stimulus yang datang dari lingkungan. Holistik atau humanisme menjelaskan mekanisme perilaku individu dalam konteks what (apa), how (bagaimana), dan why (mengapa). What (apa) menunjukkan kepada tujuan (goals/incentives/purpose) apa yang hendak dicapai dengan perilaku itu. How (bagaimana) menunjukkan kepada jenis dan bentuk cara mencapai tujuan (goals/incentives/pupose), yakni perilakunya itu sendiri. Sedangkan why (mengapa) menunjukkan kepada motivasi yang menggerakan terjadinya dan berlangsungnya perilaku (how), baik bersumber dari diri individu itu sendiri (motivasi instrinsk) maupun yang bersumber dari luar individu (motivasi ekstrinsik).
Perilaku individu diawali dari adanya kebutuhan. Setiap individu, demi mempertahankan kelangsungan dan meningkatkan kualitas hidupnya, akan merasakan adanya kekurangan-kekurangan atau kebutuhan-kebutuhan tertentu dalam dirinya. Dalam hal ini, Maslow mengungkapkan jenis-jenis kebutuhan-individu secara hierarkis, yaitu:
1.      kebutuhan fisiologikal, seperti : sandang, pangan dan papan
2.      kebutuhan keamanan, tidak dalam arti fisik, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual
3.      kebutuhan kasih sayang atau penerimaan
4.      kebutuhan prestise atau harga diri, yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status
5.      kebutuhan aktualisasi diri.
Sementara itu, Stranger (Nana Syaodih Sukmadinata,2005) mengetengahkan empat jenis kebutuhan individu, yaitu:
1.      Kebutuhan berprestasi (need for achievement), yaitu kebutuhan untuk berkompetisi, baik dengan dirinya atau dengan orang lain dalam mencapai prestasi yang tertinggi.
2.      Kebutuhan berkuasa (need for power), yaitu kebutuhan untuk mencari dan memiliki kekuasaan dan pengaruh terhadap orang lain.
3.      Kebutuhan untuk membentuk ikatan (need for affiliation), yaitu kebutuhan untuk mengikat diri dalam kelompok, membentuk keluarga, organisasi ataupun persahabatan.
4.      Kebutuhan takut akan kegagalan (need for fear of failure), yaitu kebutuhan untuk menghindar diri dari kegagalan atau sesuatu yang menghambat perkembangannya.
Kebutuhan-kebutuhan tersebut selanjutnya menjadi dorongan (motivasi) yang merupakan kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu aktivitas, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik).
Jika kebutuhan yang serupa muncul kembali maka pola mekanisme perilaku itu akan dilakukan pengulangan (sterotype behavior), sehingga membentuk suatu siklus. Berkaitan dengan motif individu, untuk keperluan studi psikologis, motif individu dapat dikelompokkan ke dalam 2 golongan, yaitu :
1.      Motif primer (basic motive dan emergency motive); menunjukkan kepada motif yang tidak pelajari, dikenal dengan istilah drive, seperti : dorongan untuk makan, minum, melarikan diri, menyerang, menyelamatkan diri dan sejenisnya.
2.      Motif sekunder; menunjukkan kepada motif yang berkembang dalam individu karena pengalaman dan dipelajari, seperti : takut yang dipelajari, motif-motif sosial (ingin diterima, konformitas dan sebagainya), motif-motif obyektif dan interest (eksplorasi, manipulasi. minat), maksud dan aspirasi serta motif berprestasi.
Untuk memahami motivasi individu dapat dilihat dari indikator-indikatornya, yaitu : (1) durasi kegiatan; (2) frekuensi kegiatan; (3) persistensi pada kegiatan; (4) ketabahan, keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan; (5) devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan; (6) tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan; (7) tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan; (8) arah sikap terhadap sasaran kegiatan.
Dalam diri individu akan didapati sekian banyak motif yang mengarah kepada tujuan tertentu. Dengan beragamnya motif yang terdapat dalam individu, adakalanya individu harus berhadapan dengan motif yang saling bertentangan atau biasa disebut konflik.
Bentuk-bentuk konflik tersebut diantaranya adalah :
1.      Approach-approach conflict; jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sama-sama kuat, dikehendaki serta bersifat positif.
2.      Avoidance-avoidance conflict; jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sama-sama kuat namun tidak dikehendaki dan bersifat negatif.
3.      Approach-avoidance conflict; jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih, yang satu positif dan dikehendaki dan yang lainnya motif negatif serta tidak dikehendaki namun sama kuatnya.
Jika seorang individu dihadapkan pada bentuk-bentuk motif seperti dikemukakan di atas tentunya dia akan mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan dan sangat mungkin menjadi perang batin yang berkepanjangan.
Dalam pandangan holistik, disebutkan bahwa dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam dirinya, setiap aktivitas yang dilakukan individu akan mengarah pada tujuan tertentu. Dalam hal ini, terdapat dua kemungkinan, tercapai atau tidak tercapai tujuan tersebut. Jika tercapai tentunya individu merasa puas dan memperoleh keseimbangan diri (homeostatis). Namun sebaliknya, jika tujuan tersebut tidak tercapai dan kebutuhannya tidak terpenuhi maka dia akan kecewa atau dalam psikologi disebut frustrasi. Reaksi individu terhadap frustrasi akan beragam bentuk perilakunya, bergantung kepada akal sehatnya (reasoning, inteligensi). Jika akal sehatnya berani mengahadapi kenyataan maka dia akan lebih dapat menyesuaikan diri secara sehat dan rasional (well adjustment). Namun, jika akal sehatnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya, perilakunya lebih dikendalikan oleh sifat emosinalnya, maka dia akan mengalami penyesuaian diri yang keliru (maladjusment).
Bentuk perilaku salah suai (maldjustment), diantaranya : (1) agresi marah; (2) kecemasan tak berdaya; (3) regresi (kemunduran perilaku); (4) fiksasi; (5) represi (menekan perasaan); (6) rasionalisasi (mencari alasan); (7) proyeksi (melemparkan kesalahan kepada lingkungan); (8) sublimasi (menyalurkan hasrat dorongan pada obyek yang sejenis); (9) kompensasi (menutupi kegagalan atau kelemahan dengan sukses di bidang lain); (10) berfantasi (dalam angan-angannya, seakan-akan ia dapat mencapai tujuan yang didambakannya).
Di sinilah peran guru untuk sedapat mungkin membantu para peserta didiknya agar terhindar dari konflik yang berkepanjangan dan rasa frustasi yang dapat menimbulkan perilaku salah-suai. Sekaligus juga dapat memberikan bimbingan untuk mengatasinya apabila peserta didik mengalami konflik yang berkepanjangan dan frustrasi.



DAFTAR PUSTAKA

Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Rosda Karya Remaja.
Calvin S. Hall & Gardner Lidzey (editor A. Supratiknya). 2005. Teori-Teori Psiko Dinamik (Klinis) : Jakarta : Kanisius
Gendler, Margaret E. 1992. Learning & Instruction; Theory Into Practice. New York : McMillan Publishing.
H.M. Arifin. 2003. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Jakarta. PT Golden Terayon Press.
Hurlock, Elizabeth B. 1980. Developmental Phsychology. New York : McGraw-Hill Book Company
Moh. Surya. 1997. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung PPB – IKIP Bandung.
Muhibbin Syah. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta : PT Raja Grafindo.
Nana Syaodih Sukmadinata. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya.
Syamsu Yusuf LN.2003. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.. Bandung : PT Rosda Karya Remaja.
 
Free Website templateswww.seodesign.usFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesAgence Web MarocMusic Videos OnlineFree Wordpress Themeswww.freethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree CSS Templates Dreamweaver