PELAKSANAAN HUBUNGAN KONSELING (HELPING RELATIONSHIP)
Kemampuan melaksanakan
hubungan konseling sebaiknya tidak hanya dimiliki oleh seorang konselor saja,
namun semua pengajar termasuk di dalamnya guru mata pelajaran dan wali kelas
seharusnya menguasai kemampuan melaksanakan hubungan konseling ini. Ketrampilan
pelaksanaan hubungan konseling diperlukan bagi guru mata pelajaran untuk
mengatasi masalah kesulitan belajar. Pemecahan masalah kesulitan belajar akan
berjalan efektif jika guru mata pelajaran yang bersangkutanlah yang
menyelesaikannya. Hal ini dimaksudkan agar guru mata pelajaran dapat bekerja
secara terarah, efektif, dan efisien. Setiap mata pelajaran tentunya memiliki
karakteristik yang berbeda-beda. Mulai dari bahan ajar, metode, tingkat
kesukaran, kompetensi yang harus dicapai serta hal-hal mendasar lainnya yang
berhubungan dengan kurikulum sebuah mata pelajaran. Hal ini tentu disikapi
secara berbeda-beda oleh subyek didik. Dalam kondisi inilah tercipta sebuah
interaksi antara individu yang satu dengan individu lainnya. Dan ketika
interaksi itu tercipta maka di sanalah seharusnya tercipta hubungan yang saling
menguntungkan. Simbiosis mutualisma.
Simbiosis mutualisma
yang dimaksud dalam konteks ini adalah hubungan yang terjalin secara
menguntungkan bagi subyek didik dan menguntungkan pula bagi pendidiknya. Ketika
pendidik dengan penuh semangat menyampaikan uraian materi pelajaran, akan
sangat diuntungkan jika subyek didik yang dihadapi memberikan tanggapan dengan
sebaik-baiknya. Bila tolak ukurnya adalah tingkat ketuntasan, maka tanggapan
terbaik siswa atas materi pelajaran yang diterimanya adalah menunjukan angka
prosentase 100%. Tetapi, bagaimanakah jika kenyataan di lapangan menunjukan hal
yang sebaliknya?
Secara umum, bimbingan
konseling bertujuan untuk memberi bantuan kepada individu untuk memecahkan
masalah yang sedang dihadapi dan mengptimalkan kemampuan yang dimiliki oleh
seorang individu. Hubungan konseling tidak hanya dilakukan oleh seorang
konselor dan guru saja, namun masih ada beberapa bidang atau profesi yang
melakukan hubungan konseling, bidang tersebut adalah sebagai berikut: dunia
kedokteran atau kesehatan, perusahaan dan industri, serta bidang pendidikan.
Pada umumnya, bidang pendidikan selalu berintikan pada kegiatan bimbingan.
Bimbingan dilaksanakan agar anak didik menjadi kreatif, produktif, dan mandiri.
Dengan kata lain, pendidikan berupaya untuk mengembangkan individu anak.
Hal-hal yang termasuk ke dalam perkembangan individu anak meliputi segala aspek
dalam diri anak, yakni: intelektual, moral, sosial, kognitif, dan emosional.
Dan kegiatan bimbingan dan konseling adalah suatu upaya untuk membantu
perkembangan aspek-aspek tersebut menjadi optimal, harmonis, dan sewajarnya.
Selanjutnya diharapkan tercipta sebuah relasi, yakni relasi pendidikan antara
pendidik dan subyek didik. Relasi pendidikan antara pendidik dan subyek didik
merupakan hubungan yang membantu karena selalu diupayakan agar ada motivasi
pendidik untuk mengembangkan potensi anak didik dan membantu subyek didik
memecahkan masalahnya.
Masalah yang dihadapi
anak didik, hubungannya dengan mata pelajaran atau bidang studi adalah meliputi
hal-hal sebagai berikut: tidak menyukai mata pelajaran tertentu, tidak menyukai
guru tertentu, sulit memahami materi yang diajarkan, kurangnya konsentrasi pada
waktu belajar, lingkungan kelas yang kurang mendukung, anggota kelompok yang
tidak kooperatif dan sebagainya. Tentu saja hal ini tidak dapat dibiarkan
begitu saja. Harus dicari sebuah upaya untuk menanggulanginya. Dengan
melaksanakan bimbingan konseling inilah upaya-upaya memecahkan masalah yang
dihadapi siswa dapat dilakukan.
Arthur J. Jones (1970)
mengatakan bahwa bimbingan dapat diartikan sebagai “ the help given by one
person to another in making choices and adjustment and in solving problems”.
Pemberian bantuan kepada seseorang dalam memecahkan masalah-masalahnya. Sebuah
pernyataan yang sangat sederhana tetapi sarat dengan makna. Ada dua unsur yang
terlibat secara langsung dalam proses bimbingan tersebut, yaitu pembimbing
(pendidik) dan terbimbing (subyek didik).
Sebagai langkah awal
dalam kegiatan helping relationship adalah memahami klien. Klien adalah semua
individu yang diberi bantuan secara profesional oleh seorang konselor
(pembimbing) baik atas permintaan dirinya sendiri ataupun pihak lain.
Hubungannya dengan yang sering kita temukan di lapangan adalah klien yang kita
hadapi klien yang diberi bantuan bukan atas dasar permintaannya sendiri,
melaikan atas permintaan orang lain terutama kita sebagai pengajar mata
pelajaran yang bersangkutan.
Oleh sebab itu, kita
sebagai guru mata pelajaran, harus memiliki keterampilan tertentu agar proses
konseling berjalan secara kondusif, produktif, kreatif dan menunjukan hasil
yang baik. Dengan kata lain proses konseling berjalan dengan sukses. Menurut
Shertzer and Stone (1987) mengemukakan bahwa keberhasilan dan kegagalan proses
konseling ditentukan oleh tiga hal, yakni: kepribadian klien, harapan klien,
dan pengalaman/pendidikan klien.
Kepribadian klien
sangat berperan penting untuk menentukan keberhasilan proses konseling.
Aspek-aspek kepribadian klien seperti: sikap, emosi, intelektual, dan motivasi
perlu mendapatkan perhatian dengan sebaik-baiknya. Seorang klien yang cemas
ketika sedang berhadapan dengan konselor akan terlihat dari prilakunya. Seorang
konselor yang baik tentu harus berusaha menentramkan kecemasan kliennya dengan
berbagai cara. Dalam istilah konseling dikenal dengan sebutan teknik attending
yaitu keterampilan menghampiri, menyapa, dan membuat klien betah dan mau
berbicara dengan konselor. Ataupun bisa dengan cara mengungkapkan perasaan-perasaan
cemas kliennya semaksimal mungkin dengan cara menggali atau mengeksplorasi,
sehingga keluar dengan leluasa bahkan mungkin sampai klien tersebut
mengeluarkan air mata, sehingga klien dapat mencurahkan semua permasalahan yang
dihadapinya kepada konselor.
Harapan klien. Dapat
diartikan sebagai adanya kebutuhan yang ingin terpenuhi melalui proses
konseling. Pada umumnya, harapan klien terhadap proses konseling adalah untuk
memperoleh informasi, menurunkan kecemasan, memperoleh jawaban dan mencari solusi
dari persoalan yang sedang dialami serta mendapatkan petunjuk dan arahan
bgaimana dirinya menjadi lebih baik dan lebih berkembang. Sebagai konselor yang
baik, tentu kita harus pandai dan terampil mengarahkan dan memupuk harapan
terbimbing (subyek didik) ke arah yang lebih realistis. Bahwa dengan melakukan
bimbingan diharapkan dapat menjadi jalan merubah dirinya ke arah yang lebih
baik.
Pengalaman dan
pendidikan klien. Pengalaman dan pendidikan klien merupakan faktor yang turut
menentukan keberhasilan proses konseling. Dengan pengalaman dan pendidikan
tersebut, klien akan lebih mudah menggali dirinya sehingga persoalannya makin
jelas dan upaya pemecahannya makin terarah. Pengalaman klien dalam kegiatan
konseling bisa digali melalui kegiatan berkomunikasi, seperti wawancara dan
berdiskusi sehingga klien secara terbuka mau menceritakan semua permasalahan
yang dihadapinya.
Dengan demikian
konselor akan dapat terbantu dalam merumuskan dan menentukan langkah
selanjutnya yang diperlukan oleh klien untuk menunjang keberhasilan proses
konseling. Dari ketiga hal yang telah diuraikan di atas, dapatlah disimpulkan
bahwa tahap-tahap konseling dapat dilakukan seperti di bawah ini:
Tahap awal. Meliputi
kegiatan attending (keterampilan menghampiri, menyapa, dan membuat klien betah
dan mau berbicara dengan konselor), empati primer dan advance ( berempati
terhadap masalah yang dihadapi klien), refleksi perasaan ( upaya untuk
menangkap perasaan, pikiran, dan pengalaman klien kemudian merefleksikannya
kembali pada klien), eksplorasi perasaan, pengalaman dan ide, menangkap
ide-ide/pesan-pesan utama, bertanya terbuka, mendefinisikan masalah bersama
klien, dorongan minimal (minimal encouragement).
Tahap pertengahan.
Teknik yang dibutuhkan pada tahap ini adalah: memimpin (leading), memfokuskan
(focusing), mendorong (supporting), menginformasikan (informing), memberi
nasehat (advising), menyimpulkan sementara (summarizing), dan bertanya terbuka
(open question).
Tahap ahir. Tahap ini
disebut tahap konseling (action). Teknik yang dapat digunakan pada tahap ini
adalah: menyimpulkan, memimpin, merencanakan, mengevaluasi dan mengakhiri
proses konseling.
DAFTAR PUSTAKA
Willis, Sofyan S. 2007. Konseling
Individual Teori dan Praktek. Bandung: Alfabeta.
Hadi, Abdul. 2010. http://bpi-uinsuskariau3.blogspot.com/2010/12/bk-sebagai-helping-profesional.html
Riau. Diunduh pada hari 16 Maret 2012 pukul 16.05

0 komentar:
Posting Komentar