Setiap manusia pasti
berkenalan dengan masalah, konflik dan situasi/kejadian yang tidak menyenangkan
terkait dengan diri sendiri, orang lain maupun lingkungan sekitar. Hal ini
merupakan hal yang wajar sebagai suatu tahapan dari pengalaman hidup dan
perkembangan diri seseorang. Oleh karena itu, kita semua pasti mengalami atau
memiliki saat-saat dimana diri kita merasa down (sedih, kecewa, tidak
bersemangat, stres, depresi dll) ataupun malah sebaliknya merasa takut, cemas,
terlalu bersemangat dll.
Banyak
kejadian-kejadian dalam hidup ini yang dapat maupun tidak dapat dihindari yang
membuat kita merasakan hal-hal seperti diatas. Ada kalanya pula kita dapat
mengatasi masalah atau perasaan tersebut dengan baik namun ada kalanya dimana
kita merasa stuck, bingung, cemas tanpa tahu harus mengadu kemana dan berfikir
bahwa tidak ada seorang pun yang dapat membantu.
Konseling merupakan
salah satu cara yang tepat untuk membantu mengatasi berbagai
permasalahan-permasalahan dalam hidup. Konseling membantu kita untuk
mengidentifikasi masalah, mencari solusi atau alternatif yang tepat dan
menyadarkan akan adanya potensi dari setiap manusia untuk dapat mengatasi
berbagai permasalahannya sendiri.
Salah satu tugas utama
guru adalah berusaha mengembangkan perilaku peserta didiknya. Dalam hal ini,
Abin Syamsuddin Makmun (2003) menyebutkan bahwa tugas guru antara lain sebagai
pengubah perilaku peserta didik (behavioral changes). Oleh itu, agar perilaku
peserta didik dapat berkembang optimal, tentu saja seorang guru seyogyanya
dapat memahami tentang bagaimana proses dan mekanisme terbentuknya perilaku
para peserta didiknya.
Untuk memahami perilaku
individu dapat dilihat dari dua pendekatan, yang saling bertolak belakang,
yaitu: (1) behaviorisme dan (2) holistik atau humanisme. Kedua pendekatan ini
memiliki implikasi yang luas terhadap proses pendidikan, baik untuk kepentingan
pembelajaran, pengelolaan kelas, pembimbingan serta berbagai kegiatan
pendidikan lainnya.
A. Mekanisme
Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Behaviorisme
Behaviorisme memandang
bahwa pola-pola perilaku itu dapat dibentuk melalui proses pembiasaan dan
penguatan (reinforcement) dengan mengkondisikan atau menciptakan
stimulus-stimulus (rangsangan) tertentu dalam lingkungan. Behaviorisme
menjelaskan mekanisme proses terjadi dan berlangsungnya perilaku individu dapat
digambarkan dalam bagan berikut :
S > R atau S > O > R
S = stimulus
(rangsangan); R = Respons (perilaku, aktivitas) dan O=organisme
(individu/manusia).
Karena stimulus datang
dari lingkungan (W = world) dan R juga ditujukan kepadanya, maka mekanisme
terjadi dan berlangsungnya dapat dilengkapkan seperti tampak dalam bagan
berikut ini :
W > S > O > R > W
Yang dimaksud dengan
lingkungan (W = world) di sini dapat dibagi ke dalam dua jenis yaitu :
- Lingkungan objektif (umgebung=segala sesuatu yang ada di sekitar individu dan secara potensial dapat melahirkan S).
- Lingkungan efektif (umwelt=segala sesuatu yang aktual merangsang organisme karena sesuai dengan pribadinya sehingga menimbulkan kesadaran tertentu pada diri organisme dan ia meresponsnya)
Perilaku yang
berlangsung seperti dilukiskan dalam bagan di atas biasa disebut dengan
perilaku spontan.
Contoh : seorang
mahasiswa sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas
yang terasa panas, secara spontan mahasiswa tersebut mengipas-ngipaskan buku
untuk meredam kegerahannya.
Ruangan kelas yang
panas merupakan lingkungan (W) dan menjadi stimulus (S) bagi mahasiswa tersebut
(O), secara spontan mengipaskan-ngipaskan buku merupakan respons (R) yang
dilakukan mahasiswa. Merasakan ruangan tidak terasa gerah (W) setelah
mengipas-ngipaskan buku.
Sedangkan perilaku
sadar dapat digambarkan sebagai berikut:
W > S > Ow > R > W
Contoh : ketika sedang
mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa agak
gelap karena waktu sudah sore hari ditambah cuaca mendung, ada seorang
mahasiswa yang sadar kemudian dia berjalan ke depan dan meminta ijin kepada
dosen untuk menyalakan lampu neon yang ada di ruangan kelas, sehingga di kelas
terasa terang dan mahasiswa lebih nyaman dalam mengikuti perkuliahan.
Ruangan kelas yang
gelap, waktu sore hari, dan cuaca mendung merupakan lingkungan (W), ada
mahasiswa yang sadar akan keadaan di sekelilingnya (Ow), –meski di ruangan
kelas terdapat banyak mahasiswa namun mereka mungkin tidak menyadari terhadap
keadaan sekelilingnya–. berjalan ke depan, meminta ijin ke dosen, dan
menyalakan lampu merupakan respons yang dilakukan oleh mahasiswa yang sadar
tersebut (R), suasana kelas menjadi terang dan mahasiswa menjadi lebih menyaman
dalam mengikuti perkuliahan merupakan (W).
Sebenarnya, masih ada
dua unsur penting lainnya dalam diri setiap individu yang mempengaruhi
efektivitas mekanisme proses perilaku yaitu receptors (panca indera sebagai
alat penerima stimulus) dan effectors (syaraf, otot dan sebagainya yang
merupakan pelaksana gerak R).
Dengan mengambil contoh
perilaku sadar tadi, mahasiswa yang sadar (Ow) mungkin merasakan penglihatannya
(receptor) menjadi tidak jelas, sehingga tulisan dosen di papan tulis tidak
terbaca dengan baik. Menggerakkan kaki menuju ke depan, mengucapkan minta izin
kepada dosen, tangan menekan saklar lampu merupakan effector.
B. Mekanisme
Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Holistik (Humanisme)
Holistik atau humanisme
memandang bahwa perilaku itu bertujuan, yang berarti aspek-aspek intrinsik
(niat, motif, tekad) dari dalam diri individu merupakan faktor penentu untuk
melahirkan suatu perilaku, meskipun tanpa ada stimulus yang datang dari
lingkungan. Holistik atau humanisme menjelaskan mekanisme perilaku individu
dalam konteks what (apa), how (bagaimana), dan why (mengapa). What (apa)
menunjukkan kepada tujuan (goals/incentives/purpose) apa yang hendak dicapai
dengan perilaku itu. How (bagaimana) menunjukkan kepada jenis dan bentuk cara
mencapai tujuan (goals/incentives/pupose), yakni perilakunya itu sendiri.
Sedangkan why (mengapa) menunjukkan kepada motivasi yang menggerakan terjadinya
dan berlangsungnya perilaku (how), baik bersumber dari diri individu itu
sendiri (motivasi instrinsk) maupun yang bersumber dari luar individu (motivasi
ekstrinsik).
Perilaku individu
diawali dari adanya kebutuhan. Setiap individu, demi mempertahankan
kelangsungan dan meningkatkan kualitas hidupnya, akan merasakan adanya
kekurangan-kekurangan atau kebutuhan-kebutuhan tertentu dalam dirinya. Dalam
hal ini, Maslow mengungkapkan jenis-jenis kebutuhan-individu secara hierarkis,
yaitu:
1. kebutuhan
fisiologikal, seperti : sandang, pangan dan papan
2. kebutuhan
keamanan, tidak dalam arti fisik, akan tetapi juga mental, psikologikal dan
intelektual
3. kebutuhan
kasih sayang atau penerimaan
4. kebutuhan
prestise atau harga diri, yang pada umumnya tercermin dalam berbagai
simbol-simbol status
5. kebutuhan
aktualisasi diri.
Sementara itu, Stranger
(Nana Syaodih Sukmadinata,2005) mengetengahkan empat jenis kebutuhan individu,
yaitu:
1. Kebutuhan
berprestasi (need for achievement), yaitu kebutuhan untuk berkompetisi, baik
dengan dirinya atau dengan orang lain dalam mencapai prestasi yang tertinggi.
2. Kebutuhan
berkuasa (need for power), yaitu kebutuhan untuk mencari dan memiliki kekuasaan
dan pengaruh terhadap orang lain.
3. Kebutuhan
untuk membentuk ikatan (need for affiliation), yaitu kebutuhan untuk mengikat
diri dalam kelompok, membentuk keluarga, organisasi ataupun persahabatan.
4. Kebutuhan
takut akan kegagalan (need for fear of failure), yaitu kebutuhan untuk
menghindar diri dari kegagalan atau sesuatu yang menghambat perkembangannya.
Kebutuhan-kebutuhan
tersebut selanjutnya menjadi dorongan (motivasi) yang merupakan kekuatan
(energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya
dalam melaksanakan suatu aktivitas, baik yang bersumber dari dalam diri
individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi
ekstrinsik).
Jika kebutuhan yang
serupa muncul kembali maka pola mekanisme perilaku itu akan dilakukan
pengulangan (sterotype behavior), sehingga membentuk suatu siklus. Berkaitan
dengan motif individu, untuk keperluan studi psikologis, motif individu dapat
dikelompokkan ke dalam 2 golongan, yaitu :
1. Motif
primer (basic motive dan emergency motive); menunjukkan kepada motif yang tidak
pelajari, dikenal dengan istilah drive, seperti : dorongan untuk makan, minum,
melarikan diri, menyerang, menyelamatkan diri dan sejenisnya.
2. Motif
sekunder; menunjukkan kepada motif yang berkembang dalam individu karena
pengalaman dan dipelajari, seperti : takut yang dipelajari, motif-motif sosial
(ingin diterima, konformitas dan sebagainya), motif-motif obyektif dan interest
(eksplorasi, manipulasi. minat), maksud dan aspirasi serta motif berprestasi.
Untuk memahami motivasi
individu dapat dilihat dari indikator-indikatornya, yaitu : (1) durasi
kegiatan; (2) frekuensi kegiatan; (3) persistensi pada kegiatan; (4) ketabahan,
keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan; (5) devosi
dan pengorbanan untuk mencapai tujuan; (6) tingkat aspirasi yang hendak dicapai
dengan kegiatan yang dilakukan; (7) tingkat kualifikasi prestasi atau produk
(out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan; (8) arah sikap terhadap
sasaran kegiatan.
Dalam diri individu
akan didapati sekian banyak motif yang mengarah kepada tujuan tertentu. Dengan
beragamnya motif yang terdapat dalam individu, adakalanya individu harus berhadapan
dengan motif yang saling bertentangan atau biasa disebut konflik.
Bentuk-bentuk konflik
tersebut diantaranya adalah :
1. Approach-approach
conflict; jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua
alternatif motif sama-sama kuat, dikehendaki serta bersifat positif.
2. Avoidance-avoidance
conflict; jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua
alternatif motif sama-sama kuat namun tidak dikehendaki dan bersifat negatif.
3. Approach-avoidance
conflict; jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih, yang satu positif
dan dikehendaki dan yang lainnya motif negatif serta tidak dikehendaki namun
sama kuatnya.
Jika seorang individu
dihadapkan pada bentuk-bentuk motif seperti dikemukakan di atas tentunya dia
akan mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan dan sangat mungkin menjadi
perang batin yang berkepanjangan.
Dalam pandangan
holistik, disebutkan bahwa dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam dirinya,
setiap aktivitas yang dilakukan individu akan mengarah pada tujuan tertentu. Dalam
hal ini, terdapat dua kemungkinan, tercapai atau tidak tercapai tujuan
tersebut. Jika tercapai tentunya individu merasa puas dan memperoleh
keseimbangan diri (homeostatis). Namun sebaliknya, jika tujuan tersebut tidak
tercapai dan kebutuhannya tidak terpenuhi maka dia akan kecewa atau dalam
psikologi disebut frustrasi. Reaksi individu terhadap frustrasi akan beragam
bentuk perilakunya, bergantung kepada akal sehatnya (reasoning, inteligensi).
Jika akal sehatnya berani mengahadapi kenyataan maka dia akan lebih dapat
menyesuaikan diri secara sehat dan rasional (well adjustment). Namun, jika akal
sehatnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya, perilakunya lebih dikendalikan
oleh sifat emosinalnya, maka dia akan mengalami penyesuaian diri yang keliru
(maladjusment).
Bentuk perilaku salah
suai (maldjustment), diantaranya : (1) agresi marah; (2) kecemasan tak berdaya;
(3) regresi (kemunduran perilaku); (4) fiksasi; (5) represi (menekan perasaan);
(6) rasionalisasi (mencari alasan); (7) proyeksi (melemparkan kesalahan kepada
lingkungan); (8) sublimasi (menyalurkan hasrat dorongan pada obyek yang
sejenis); (9) kompensasi (menutupi kegagalan atau kelemahan dengan sukses di
bidang lain); (10) berfantasi (dalam angan-angannya, seakan-akan ia dapat mencapai
tujuan yang didambakannya).
Di sinilah peran guru
untuk sedapat mungkin membantu para peserta didiknya agar terhindar dari
konflik yang berkepanjangan dan rasa frustasi yang dapat menimbulkan perilaku
salah-suai. Sekaligus juga dapat memberikan bimbingan untuk mengatasinya
apabila peserta didik mengalami konflik yang berkepanjangan dan frustrasi.
DAFTAR PUSTAKA
Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi
Pendidikan. Bandung : PT Rosda Karya Remaja.
Calvin S. Hall & Gardner Lidzey
(editor A. Supratiknya). 2005. Teori-Teori Psiko Dinamik (Klinis) : Jakarta :
Kanisius
Gendler, Margaret E. 1992. Learning
& Instruction; Theory Into Practice. New York : McMillan Publishing.
H.M. Arifin. 2003. Teori-Teori Konseling
Agama dan Umum. Jakarta. PT Golden Terayon Press.
Hurlock, Elizabeth B. 1980.
Developmental Phsychology. New York : McGraw-Hill Book Company
Moh. Surya. 1997. Psikologi Pembelajaran
dan Pengajaran. Bandung PPB – IKIP Bandung.
Muhibbin Syah. 2003. Psikologi Belajar.
Jakarta : PT Raja Grafindo.
Nana Syaodih Sukmadinata. 2005. Landasan
Psikologi Proses Pendidikan. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya.
Syamsu Yusuf LN.2003. Psikologi
Perkembangan Anak dan Remaja.. Bandung : PT Rosda Karya Remaja.
