Senin, 23 Juli 2012

Prinsip Pengembangan Kurikulum


A.    Pengertian Pengembangan Kurikulum

Pengembangan kurikulum adalah istilah yang komprehensif, didalamnya mencakup: perencanaan, penerapan dan evaluasi. Perencanaan kurikulum adalah langkah awal membangun kurikulum ketika pekerja kurikulum membuat keputusan dan mengambil tindakan untuk menghasilkan perencanaan yang akan digunakan oleh guru dan peserta didik. Penerapan Kurikulum atau biasa disebut juga implementasi kurikulum berusaha mentransfer perencanaan kurikulum ke dalam tindakan operasional. Evaluasi kurikulum merupakan tahap akhir dari pengembangan kurikulum untuk menentukan seberapa besar hasil-hasil pembelajaran, tingkat ketercapaian program-program yang telah direncanakan, dan hasil-hasil kurikulum itu sendiri. Dalam pengembangan kurikulum, tidak hanya melibatkan orang yang terkait langsung dengan dunia pendidikan saja, namun di dalamnya melibatkan banyak orang, seperti : politikus, pengusaha, orang tua peserta didik, serta unsur – unsur masyarakat lainnya yang merasa berkepentingan dengan pendidikan.

B.     Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum

Prinsip-prinsip yang akan digunakan dalam kegiatan pengembangan kurikulum pada dasarnya merupakan kaidah-kaidah atau hukum yang akan menjiwai suatu kurikulum. Dalam pengembangan kurikulum, dapat menggunakan prinsip-prinsip yang telah berkembang dalam kehidupan sehari-hari atau justru menciptakan sendiri prinsip-prinsip baru. Oleh karena itu, dalam implementasi kurikulum di suatu lembaga pendidikan sangat mungkin terjadi penggunaan prinsip-prinsip yang berbeda dengan kurikulum yang digunakan di lembaga pendidikan lainnya, sehingga akan ditemukan banyak sekali prinsip-prinsip yang digunakan dalam suatu pengembangan kurikulum.





Dalam hal ini, Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengetengahkan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum yang dibagi ke dalam dua kelompok :
(1) prinsip – prinsip umum : relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, praktis, dan efektivitas.
(2) prinsip-prinsip khusus : prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan, prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan, prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar, prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pelajaran, dan prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian.
Sedangkan Asep Herry Hernawan dkk (2002) mengemukakan lima prinsip dalam pengembangan kurikulum, yaitu :
1.     Prinsip relevansi; secara internal bahwa kurikulum memiliki relevansi di antara komponen-komponen kurikulum (tujuan, bahan, strategi, organisasi dan evaluasi). Sedangkan secara eksternal bahwa komponen-komponen tersebutmemiliki relevansi dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi (relevansi epistomologis), tuntutan dan potensi peserta didik (relevansi psikologis) serta tuntutan dan kebutuhan perkembangan masyarakat (relevansi sosilogis).
2.      Prinsip fleksibilitas; dalam pengembangan kurikulum mengusahakan agar yang dihasilkan memiliki sifat luwes, lentur dan fleksibel dalam pelaksanaannya, memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan situasi dan kondisi tempat dan waktu yang selalu berkembang, serta kemampuan dan latar bekang peserta didik.
3.      Prinsip kontinuitas; yakni adanya kesinambungandalam kurikulum, baik secara vertikal, maupun secara horizontal. Pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum harus memperhatikan kesinambungan, baik yang di dalam tingkat kelas, antar jenjang pendidikan, maupun antara jenjang pendidikan dengan jenis pekerjaan.
4.      Prinsip efisiensi; yakni mengusahakan agar dalam pengembangan kurikulum dapat mendayagunakan waktu, biaya, dan sumber-sumber lain yang ada secara optimal, cermat dan tepat sehingga hasilnya memadai.
5.      Prinsip efektivitas; yakni mengusahakan agar kegiatan pengembangan kurikulum mencapai tujuan tanpa kegiatan yang mubazir, baik secara kualitas maupun kuantitas.




Terkait dengan pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, terdapat sejumlah prinsip-prinsip yang harus dipenuhi, yaitu :
1.      Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan.
2.      Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, dan jenjang serta jenis pendidikan, tanpa membedakan agama, suku, budaya dan adat istiadat, serta status sosial ekonomi dan gender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antarsubstansi.
3.      Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni berkembang secara dinamis, dan oleh karena itu semangat dan isi kurikulum mendorong peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan secara tepat perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
4.      Relevan dengan kebutuhan kehidupan. Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan pribadi, keterampilan berpikir, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan.
5.      Menyeluruh dan berkesinambungan. Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antarsemua jenjang pendidikan.



6.      Belajar sepanjang hayat. Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, nonformal dan informal, dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.
7.      Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pemenuhan prinsip-prinsip di atas itulah yang membedakan antara penerapan satu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dengan kurikulum sebelumnya, yang justru tampaknya sering kali terabaikan. Karena prinsip-prinsip itu boleh dikatakan sebagai ruh atau jiwanya kurikulum
Dalam mensikapi suatu perubahan kurikulum, banyak orang lebih terfokus hanya pada pemenuhan struktur kurikulum sebagai jasad dari kurikulum . Padahal jauh lebih penting adalah perubahan kutural (perilaku) guna memenuhi prinsip-prinsip khusus yang terkandung dalam pengembangan kurikulum.
Tipe-tipe prinsip pengembangan kurikulum meliputi :
1.      Anggapan kebenaran utuh atau menyeluruh (Whole Truth)
2.      Anggapan kebenaran parsial (partial truth)
3.      Anggapan kebenaran yang masih membutuhkan pembuktian (Hypothesis)

C.    Prinsip-Prinsip Khusus

Ada beberapa prinsip yang lebih khusus dalam pengembangan kurikulum:
Tujuan pendidikan, isi pendidikan, pengalaman belaJar, penilaian
1. Prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan
Tujuan menjadi pusat kegiatan dan arah semua kegiatan pendidikan. Perumusan komponen-komponen kurikulum hendaknya mengacu pada tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan mencakup tujuan yang bersifat umum atau berjangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek (tujuan kusus)


2. Prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan
Memilih isi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan yang telah ditentukan, para perencana kurikulum.
3. Prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar
Pemilihan proses belajar mengajar yang digunakan hendaknya memperhatikan
a) metode atau teknik belajar mengajar yang cocok
b) metode atau teknik tersebut memberikan kegiatan yang bervariasi
c) metode atau teknik tersebut memberikan urutan kegiatan yang bertingkat-tingkat
d) metode atau teknik tersebut dapat menciptakan kegiatan untuk mencapai tujuan kognitif, afektif, dan psikomotor
e) metode atau teknik tersebut lebih mengaktifkan siswa atau mengaktifkan guru, atau keduanya.
f) Metode atau teknik tersebut mendorong berkembangnya kemampuan baru
g) Metode atau teknik tersebut menimbulkan jalinan kegiatan disekolah dan di rumah juga mendorong penggunaan sumber yang ada di rumah dan di masyarakat
h) Untuk belajar ketrampilan sangat dibutuhkan kegiatan belajar yang menekankan learning, by doing, disamping learning by seeing  and knowing

4. Prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian
Dalam pengolahan suatu hasil penilaian hendaknya memperhatikan unsur yang terkandung pada hasil penilaian tersebut.

D.    Pengembangan Kurikulum

Dalam mengembangkan suatu kurikulum bayak pihak yang turut berpartisipasi yaitu:
1. Peranan para administrator pendidikan
Peranan para administrator di tingkat pusat ( direktur dan kepala pusat)mdalam pengembangan kurikulum adalam menyusun dasar-dasar hukum, menyusun kerangka dasar serta program inti kurikulum. Kerangka dasar dan program inti tersebut akan menuntukan minimum course yang dituntut.
Administrator tingkat pusat berkerja sama dengan para ahli pendidikan dan ahli bidang studi di perguruaan tinggi serta meminta persetujuannya terutama dalam penyusunan kurikulum sekolah. Mengembangkan kurikulum sekolah bagi daerahnya [yang sesuai dengan kebutuhan daerah, para kepala sekolah mempunyai wewenang dalam membuat operasionalisasi sistem pendidikan pada masing-masing sekolah.
2. Peranan para ahli
Pengembangan kurikulum membutuhkan bantuan pemikiran para ahli baik ahli pendidikan, kurikulum dan ahli bidang setudi. Para ahli pendidikan dan kurikulum memberikan alternatif konsep pendidikan dan model kurikulum yang dipandang paling sesuai dengan keadaan.
Pengembangan kurikulum juga membutuhkan partipasi para ahli bidang studi juga mempuyai wawasan tentang pendidikan serta perkembangan tuntutan masyarakat sumbangan mereka dalam memilih materi bidang ilmu, yang mutahir dan sesuai dengan perkembangan kebutuhan masyarakat yang diperlukanuntuk memudahkan siswa untuk mempelajarinya.
3. Peranan Guru
Guru memegang peran penting baik di dalam perencanan maupun pelaksanan kurikulum. Dia adalah perencana ,pelaksana dan pengembang kurikulum bagi kelasnya, guru merupakan penrjemah kurikulum  yang datang ari atasan. Ialah yang mengolah, meramu kemali kurikulum dari pusat untuk disajikan di kelasnya. Guru merupakan barisan pengembangan kurikulum yang terdepan maka gurupulahlah yang selalu melakukan penyempurnan terhadap kurikulum.

4. Peranan orang tua murid
Peranan orang tua lebih besar dalam pelaksanan kurikulum diperlukan kerjasama yang sangat erat antara guru atau sekolah dengan para orang tua murid. Sebagian kegiatan yang dutuntut kurukulum dilaksanakan di rumah dan orang tua sewajarnya mengikuti dan mengamati kegiatan belajar anaknya dirumah.
Melalui pengamatan dalam kegiatan belajar di rumah, laporan sekolah, partipasi dalam kegiatan sekolah orang tua dapat turut serta dalam pengembangan kurikulum. Kegiatan-kegiatan tersebut akan memberikan umpan balik bagi penyempurnan kurikulum.





E.     Faktor yang mempengaruhi pengembangan kurikulum

A. Pergurun tinggi
Kurikulum minimal mendapat dua pengaruh dari perguruan tinggi yaitu:
1. Dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan di perguruan tinggi umum.
2. Dari pengembangan ilmu pendidikan dan keguruan serta penyiapan guru-guru di perguruan tinggi keguruan.
Jenis pengetahuan yang di perguruan tinggi akan mempengaruhi isi pelajaran yang akan di kembangkan dalam kurikulum, Perkembangan teknologi selain menjadi isi kurikulum juga mendukung pengembangan alat bantu dan media pendidikan.
B. Masyarakat
Sebagai bagian dan agen masyarakat, sekolah sangat dipengaruhi oleh lingkungan myarakat dimana sekolah tersebut berda. Isi kurikulum hendaknya mencerminkan kondisi dan dapat memenuhi tuntutan dan kebutuhan maayarakat disekitarnya. Sekolah harus melayani aspirasi-aspirasi yang ada di masyarakt. Perkembangan dunia usaha yang ada dimasyarakat mempengaruhi pengembangan kurikulum sebab sekolah bukan hanya mempersiapkan anak untuk hidup, tetapi juga untuk berkerja dan berusaha.
C. Sistem nilai
Masalah utama yang dihadapi para pengembang kurikulum menghadapi nilai ini adalah, bahuwa dalam masyarakat nilai itu tidak hanya satu masyarakat umumnya heterogen dan multifaset. Ada beberapa hal yang di perhatikan guru dalam mengerjakan nilai:
1. Guru hendaknya mengetahui dan memperhatikan semua nilai yang ada dalam masyarakat.
2. Guru hendaknya berpegang pada prinsip demokrasi, etis dan moral.
3. Guru berusaha menjadikan dirinya sebagi teladan yang ditiru.
4. Guru menghargai niali-nili kelompok lain.
5. Memahami dan menerima keragaman budaya sendiri




F.     Model- Model Pengembangan Kurikulum

Sekurang-kurangnya dikenal delapan model pengembangan kurilum yaitu: The administrative (line staff) model, The grass roots model, Beauchamp’s system, The demonstration model, Taba’s inverted model, roger’s interpersonal relation model, The systematic action research model dan emerging technical model.
1. The administrative model.
Model pengembangan kurikulum ini merupakan model pengembangan kurikulum yang paling lama dan banyak dikenal. Model pengembangan kurikulum ini digagas oleh para administrator pendidikan dan menggunakan prosedur administrasi.degan wewenang administrasinya administrator pendidikan mebentuk komisi atau tim pengarah pengembangan kurikulum.anggota- anggota komisi atau tim ini terdiri dari pejabat di bawahnya, para ahli pendididkan, ahli kurkulum, ahli disiplin ilmu, dan para tokoh dari dunia kerja dan perusahaan. Tugas komisi ini adalah merumuskan konsep- konsep dasar, landasan- landasan, kebijaksanaan, dan strategi utama pengembangan kurikulum. Tim kerja pengembangan kurikulum bertugas menyusun kurikulum yang sesungguhnya yang lebih oprasional, dijabarkan dari konsep- kosep dan kebijaksanaan yang telah digariskan oleh tim pengarah. Setelah itu dikaji oleh tim pengarah dan ahli lain yang berwenang. Setelah mendapatkan kajian dan penilaian, administrator pemberi tugas menyampaikan kurikulum ke sekolah- sekolah. Dalam tahun- tahun awal perlu adanya monitoring, pengawasan, dan pengamatan, serta perlu adanya evaluasi untuk mengetahui tingkat keberhasilan.

2. The grass roots model
Model pengembangan kurikulum ini berasal dari guru- guru di sekolah yang mana bersifat desentralisasi. Pengembangan kurikulum ini dapat dilakukan oleh sebagai guru atau sekelompok guru untuk menyusun kurikulum. Apabila kondisinya memungkinkan model ini lebih baik, sebab guru adalah perencana, pelaksana, dan penyempurna dari pengajaran di kelasnya. Prinsip- prinsip pengembangan kurikulum menurut Smith, Stanley, Sores (1956 ; 429).
Model the grass roots model yang bersifat desentralisasi dapat memunculkan persaingan yang dapat menciptakan manusia yang kreatif dan mandiri.



3. Beauchamp’s system
Model ini dicetuskan oleh Beauchamp, dimana dibagi menjadi lima. Pertama menentukan area atau wilayah yang akan dicakup kurikulum tersebut. Kedua menentukan personalia yang akan ikut dalam pengembangan kurikulum. Dikelompokkan menjadi para ahli kurikulum yang berada dipusat, para ahli pendidikan berasal dari perguruan tinggi, ahli professional dalam pendidikan, dan tokoh lain. Ketiga organisasi dan prosedur pengembangan kurikulum, yang mana dibagi menjadi; membentuk tim pengembangan kurikulum, mengadalkan penilaia dan penelitian tentang kurikulum yang ada, studi penjajagan tentang penyusunan kurikulum yang baru, merumuskan kriteria- kriteria yang ada dalam kurikulum yang baru, penyusunan kurikulum baru. Keempat mengimplementasikan kurikulum. Langkah ini membutuhkan kesiapan guru, siswa, kelas, biaya, dan administrator. Yang ke lima mengevaluasi kurikulum, yang mencakup empat hal evaluasi kurikulum pada guru- guru evaluasi desain kurikulum, evaluasi hasil belajar siswa, dan evaluasi dari keseluruhan kurikulum.

4. The Demonstration model
Model demonstrasi pada dasarnya bersifat grass roots, datang dari bawah. Model ini diprakarsai oleh sekelompok guru atau sekelompok guru bekerja sama dengan ahli yang bermaksud mengadakan perbaikan kurikulum. Model ini umumnya berskala kecilm, hanya mencakup suatu atau beberapa sekolah, suatu komponen kurikulum atau mencakup keseluruhan kurikulum. Karena sifatnya ingin mengubah atau mengganti kurikulum yang ada, pengembangan kurikulum sering mendapt tantangan dari pihak-pihaktertentu.
Menurut Smith, Stanley, dan Shores ada dua variasi model demonstrasi ini. Yang pertama, sekelompok guru dari suatu sekolah tau beberapa sekolah ditunjuk untuk melakukan suatu percobaan tentang pengembangan kurikulum.
Sedangkan bentuk yang kedua, kurang bersifat formal. Beberapa guru yang merasa kurang puas dengan kurikulum yang ada, mencoba mengadakan penelitian dan pengembangan sandiri. Mereka melakukan hal-hal lain yang berbeda dengan yang berlaku.
Ada beberapa perbaikan dari pengembangan kurikulum dengan model demonstrasi ini. Pertama kurikulum disusun dan dilaksanakan dalam situasi tertentu yang nyata, maka akan dihasilkan kurikulum atau aspek tertentu dari kurikulim yang lebih praktis. Kedua, perubahan atau penyempurnaan kurikulum dalam skala kecil atau aspek tertentu yang khusus, sedikit sekali untuk ditolak oleh administrator, dibandingkan dengan perubahan dan penyempurnaan yang menyeluruh.
Ketiga, pengemban kurikulum dalam skala kecil dengan model demonstrasi dapat menembus hambatan yang sering dialami yaitu dokumentasinya bagus tetapi pelaksaan tidak ada. Keempat, model ini sifatnya yang modelnya grass roots menempatkan guru sebagai ppengambil inisiatif dan narasumber yang dapat menjadi pendorong bagi para administrator untuk mengembangkan program baru. Kelemahan model ini adalah bagi guru yang tidak ikut berpartisipasi mereka akan menerima dengan enggan-enggan, dalam keadaan terburuk mungkin akan terjadi apatisme.

5. Taba’s Inverted Model
Menurut cara yang bersifat tradisional pengembangan kurikulum dilakukan secara deduktif. Taba berpendapat model deduktif ini kurang cocok, sebab tidak merangsang timbulnya inovasi-inovasi.  Menurutnya pengembangan kurikulum yang dapat mendorong inovasi dan kreativitas guru adalah yang bersifat induktif, yang merupakan inversi atau arah terbalik dari model tradisional.
Ada lima langkah pengembangan kurikulum model Taba ini, pertama, mengadakan unit-unit eksperimen bersama guru-guru. Di dalam unit eksperimen ini diadakan studi yang seksama tentang hubungan antara teori dengan praktek. Perencanaan didasarkan pada teori yang kuat, dan eksperimen di dalam kelas menghasilkan data yang untuk menguji landasan teori yang digunakan.
Langkah kedua, menguji unit eksperimen. Meski unit eksperimen ini telah diuji dalam pelaksanaan di kelas atau tempat lain untuk mengetahui validitas dan kepraktisannya, serta menghimpun data bagi penyempurnaan.
Langkah ketiga, mengadaka revisi dan konsolidasi. Selain diadakan penyempurnaan, digunakan juga konsolidasi, yaitu penarikan kesimpulan pada hal yang lebuh bersifat umum  yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas. Langkah keempat, pengembangan keseluruhan kerangka kurikulum. Langkah kelima, implementasi dan diseminasi yaitu menerapkan kurikulum baru ini pada daerah atau sekolah-sekolah yang lebih luas.

6. Roger’s Interpersonal Relations Model
Menurut When Crosby (1970: 388) perubahan kurikulum adalah perubahan individu. Menurut Rogers manusia berada pada proses perubahan, sesungguhnya ia memiliki potensi dan kekuatan untuk berkembang sendiri, tapi karena ada hambatan dia membutuhkan orang lain untuk membantu mempercepat perubahan tersebut.
Ada empatlangkah pengembangan kurikulum model Rogers. Pertama, pemilihan  target dari sistem pendidikan. Langkah kedua adalah partisipasi guru dalam pengalaman kelompok yang intensif. Langkah ketiga yaitu pengembangan pengalaman kelompok yang intensif satu kelas atau unit pelajaran. Langkah keempat adalah partisipasi orang tua dalam kegiatan kelompok.
Model pengembangan kurikulum dari Rogers berbeda dengan model lainnya, sebab tidak ada suatu perencanaan kurikulum tertulis, yang ada hanyalah rengkaian kegiatan kelompok. Metode pendidikan yang diutamakan Rogers adalah sensitivity training, encounter group dan Training group (T Group).

7. The Systematic Action-Research Model
Model kurikulum ini didasarkan pada asumsi bahwa perkembangan kurikulum merupakan perkembangan sosial. Hal itu mencakup suatu proses yang melibatkan kepribadian orang tua, siswa, guru, struktur sistem sekolah, pola hubungan pribadi dan kelompok dari sekolah, dan masyarakat. Sesuai dengan asumsi tersebut model ini menekankan pada tiga hal yaitu hubungan insani, sekolah dan organisasi masyratakat, serta wibawa dari pengetahuan profesional.
Penyusunan kurikulum harus memasukkan pandangan dan harapan masyarakat, dan salah satu cara untuk mencapai hal itu adalah dengan prosedur action research.
Langkah pertama, mengadakan kajian secara seksma tentang masalah kurikulum, berupa pengumpulan data yanf bersifat menyeluruh, mengidentifikasi faktor, kekuatan, dan kondisi yang mmempengaruhi masalah tersebut. Langkah kedua yaitu implementasi dari masalah yang diambil dalam tindakan pertama.



8. Emerging Technical Models
Perkembangan bidang teknologi dan ilmu pengetahuan serta nilai efisiensi efektivitas dalam bisnis, juga mempengaruhi perkiembangan model kurikulum. Tumbuh kecenderungan baru yang didasarkan atas hal itu, di antaranya adalah:
a.The behavioral Analysis Model, menekankan penguasaan perilaku atau kemampuan.
b.The Systemj Analysis Model berasal dari gerakan efisiensi bisnis.
c.The Computer-Based Model suatu model pengembangan kurilkulum dengan memanfaatkan komputer.


 
DAFTAR PUSTAKA

E. Mulyasa. 2008. KurikulumTingkat Satuan Pendidikan. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Sukmadinata, Nana Syaodah. 2007. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung : PT. Rosdakarya

Jumat, 20 Juli 2012

peristiwa penting dalam perkembangan konseling


Perkembangan Konseling: Nama dan Peristiwa Penting

Konseling sebagai suatu upaya profesional memang di mulai di negeri luar, ketika 1986-a psychological counseling clinic was establised by Lightner Witmer at the University of Pennysylvania. Namun Shertzer dan Stone memperkirakan bahwa konseling mulai ada pada tahun 1898 melalui ungkapan, Counseling may have begun in 1989 when Jesse B. Davis begun work as a counselor at Central High School in Detroit, Michigan. Kedua kutipan diatas menyajikan menyajikan data yang sama kuat dan jelas. Akan tetapi data tersebut terakhir tampak lebih praktis karena jelas ada seorang konselor yang bertugas  dan tidak sekedar pendirian sebuah linik. Setelah mengalami proses perkembangan danpemantapan di negeri asalnya, kemudian konseling berkembng di berbagai negara termasuk indonesia yang tergandeng lekat dalam upaya dan pengembangan bimbingan sekolah di Indonesia 1960.
Nama dan peristiwa yang terlibat dalam perkembangan konseling, sebagaimana telah disusun oleh Pietrofesa, dkk, disadur seperti berikut:
  1. 1)      1879-Wilohem Wundt mendirikan mendirikan laboratorium eksperimental psikologi yang pertama di Leipzig, Jerman.
  2. 2)      1883-G. Stanley Hall mendirikan suatu laboratorum psikologi pada universitas Johns Hopkins dan membantu mengawali studi kanak-kanak dan gerakan perkembangan di Amerika Serikat.
  3. 3)      1890-an-Para penulis pembaharu sosial, seperti jacob Riis dan Ida Tarbell, membantu menciptakan suasana bagi perhatian kepada masyarakat yang serba kekurangan di Amerika Serikat.
  4. 4)      1890-Sigmund Freud mulai menggunakan psikoanalosis dalam penyembuhan penyakit emosional.
  5. 5)      1895-George Merril mendirikan program bimbingan jabatan sistematik yang pertama di San Fransisco.
  6. 6)      1896- suatu klinik konseling psikologis didirikan oleh Lighner Witmer di Universitas Pennsylvania.
  7. 7)      1898- Jesse B. Davis memulai kegiatan sebagai pendidik dan konselor karir pada Central High School di Detroit.
  8. 8)      1905- Albert Binet dan Theophile Simon mengupayakan suatu test intelegensi umum baku di Paris.
  9. 9)      1908- Frank Parsonsmenggiatkan usaha-usaha bimbingan jabatan melalui kepemimpinannya pada Vocasional Bureau of Boston dan dengantulisannya yang berjudul Choosing A Vocasion.
  10. 10)  1909- Clifford Beers menulis A Mind That Found It Self dan membantu pendirian Nasional Comission for Mental Hygiebe (sekarang menjadi National Association for Mental Health).
  11. 11)  1913- National Vocational Guidance Association didirikan di Grand Rapid, Michigan.
  12. 12)  1917- Anny Alpha, suatu tes kemampuan verbal untuk kelompok, dan Anny Beta,suatu tes kemampuan mental nonverbal, dikembangkan untuk digunakan dalam testingdan prosedur skrining pada perang dunia I.
  13. 13)  1927- Strong Vocational Interest Blank diterbitkan pertama kali, menunjukkan kemajuan pertumbuhan dan perkembangan pengukuran minat.
  14. 14)  1929- George Reed Act disahkan oleh kongres yang meningkatkan bantuan federal, pemerintah pusat AS, bagi pendidikan jabatan.
  15. 15)  1934- George Ellzy Act, yang mendukung program-program pendidikan jabatan, disahkan oleh kongres.
  16. 16)  1935- sebagai reaksi dari depresi (ekonomi) dan pengangguran besar-besaran, didirikan Work Progress Administration. Konseling dan penempatan merupakan layanan yang dibuka, ditawarkan, bagi pemuda-pemudi.
  17. 17)  1936- George-Deen Act melanjutkan, menyambung dukungan federal bagi pendidikan jabatan.
  18. 18)  1937- didirikan American Association for Applied Psychology.
  19. 19)  1938- pada US Office of Education, departemen pendidikan AS, dibuka Occupational Information And Guidance Service.
  20. 20)  1939- E. G. Williamson mempublikasikan How to Counsel Students, tempat ia menguraikan konseling yang berlandaskan ancangan Trait adn Factor.
  21. 21)  1941- Army General Classification Test dikembangkan.
  22. 22)  1942- Carl Rogers mempublikasikan Counseling and Psychotherapy, dan ini mendukung pergeseraan penekanan gerakan konseling dari psikometrik ke terapi.
  23. 23)  1945- General Aptitude Test Battery dikembangkan oleh US Employment Office, departemen tenaga kerja AS
  24. 24)  1951- didirikan American Personal and Guidance Association.
  25. 25)  1952- diorganisasikan American School Counselor Association, dan pada tahun berikutnya menjadi suatu cabang dari American Personel and Guidence Association.
  26. 26)  1953- American Psychological Association mengganti nama difisinya yaitu Counseling and Guidance menjadi “devision 17-Counseling Psychology”.
  27. 27)  1953- B. F Skinner mempublikasikan Science and Human Behavior dan memusatkan perhatian konselor pada prinsip-prinsip behaviorisme.
  28. 28)  1954- diadakan Journal of Counseling Psychology.
  29. 29)  1954- dibentuk, didirikan, Office of Vocational Rehabilitation.
  30. 30)  1957- Donald Super mempublikasika The Psychology of Careers dan memusatkan perhatian pada teori-teori pemilihan karier pada pembuatan keputusan jabatan.
  31. 31)  1958- National Defence Educational Act menyediakan dana untuki mengokohkan program-program bimbingan sekolah dan mempersiapkan konselor-konselor sekolah lanjutan.
  32. 32)  1962- C. Gilbert Wrenn mempublikasikan The Counselir in A Changing World dan mendapatkan dukungan konselor dan pemuka-pemuka masyarakat.
  33. 33)  1964- kongres mengubah peraturan NDEA 1958 guna menyediakan dana federal bagi konselor sekolah dasar dan konselor pasca sekolah menengah.
  34. 34)  1967- Charles Truax dan Robert Carkhuff mempublikasikan Toward Effective Counseling and Psychotherapy, dan terus-menerus merevieu ramuan terapeutik dan merumuskan arah baru pendidikan konselor.
  35. 35)  1969- Johm Krumboltz dan Carl Thoresen mengedit Behavioral Counseling: Cases and Techniques, yang kemudian menunjang usaha para konselor bahavioristik.
  36. 36)  1970- Alfin Toffler menulis Future Schock dan mengarahkan perhatian konselor akan perlunya pengenalan proses perubahan kehidupan dan peluang masa depan.
  37. 37)  1971- Selaku komisaris US Office of Education, Sidney Marland mengaajukan konsep pendidikan karir dan diikuti keterlibatan dalam menunjang perkembangan dan perencanaan karir.
  38. 38)  1973- Robert Carkhuff mempublikasikan The Art of Helping dan memusatkan perhatian pada prosedur dan latihan konseling yang dapat dipelajari dan dinilai secara efektif.
  39. 39)  1976- kongres, dalam Public Law 94-482, mendirikan suatu unit administratif bagi bimbingan dan konseling pada US Office of Education dan menyediakan dana baru jumlah besar dan dapatdigunakan bagi berbagai program bimbingan dan konseling.

Perkembangan Konseling di Indonesia

Perkembangan konseling di Indonesia tergolong relatif baru. Kehadiran upaya konseling ini mula-mula dikembangkan di sekolah-sekolah, terutama sekolah menengah. Melihat kemajuan masyarakat Indonesia yang sangat baik akhir-akhir ini, akhirnya konseling juga diterapkan di pusat-pusat rehabilitasi sosial dan lembaga-lembaga sosial dan industri.
Di Indonesia pekerjaan di bidang konseling ini mulai menunjukkan perkembangannya, sekalipun keadaan ini tidak dapat diperbandingkan dengan perkembangan yang ada di negara-negara maju. Selain karena masih relatif baru, pekerjaan ini pekerjaan ini belum banyak dirasakan “kebutuhannya” atau tidak dapat dianggap sebagai hal yang mendesak dan tidak menjadi prioritas dalam mengatasi berbagai persoalan kehidupan sosial, meskipun banyak orang yang sebenarnya memerlukan layanan konseling ini.
Di negara-negara maju, layanan konseling telah diselenggarakan secara meluas. Selain telah menjadi bagian dalam penyelenggaraan sistem pendidikan, konseling juga dilembagakan sebagai instansi, seperti perusahaan, instansi sosial, rumah sakit, dan lembaga koreksional. Jika apa yang terjadi di Amerika Serikat itu merupakan gambaran kebutuhan layanan konseling di Indonesia yang akan datang, maka nantinya layanan ini menjadi bagian yang cukup penting bagi upaya peningkatan kesehatan mental masyarakat Indonesia yang akan datang.
Saat ini kemajuan dan kebutuhan akan layanan konseling telah ditopang dengan banyaknya lembaga-lembaga pendidikan yang mendidik tenaga-tenaga konselor profesional. Dalam waktu yang relatif singkat dimungkinkan kesadaran masyarakat terhadap perlunya layanan konseling akan meningkat.
Sejalan dengan kemajuan dalam pelayanan terhadap kebutuhan individu, keluarga, dan masyarakat di berbagai institusi, kini konseling telah dicoba dikembangkan secara luas, baik melalui pendidikan, riset, maupun praktek di lapangan. Konseling yang kini berkembang di masyarakat selain konseling pendidikan yang telah meluas diterapkan di lembaga-lembaga pendidikan, juga berkembang konseling jabatan (di industri), konseling untuk reproduksi, konseling bidang kesehatan, konseling keluarga untuk persiapan purna tugas, dan sebagainya. Dengan demikian konseling ini menjadi usaha pemecahan masalah yang mulai dirasakan manfaat dan perkembangannya menunjukkan tanggapan yang positif dari masyarakat.








Daftar Pustaka

Latipun. 2008. Psikologi Konseling. Malang: UMM Press
Mappiare, Andi. 2004. Pengantar Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Yusuf, Syamsu dan A. Juntika Nurihsan. (2005). Landasan Bimbingan dan Konseling .Bandung: Rosda.
Noorholic. (2008).Sejarah Bimbingan dan Konseling dan Lahirnya BK 17 Plus, [Online].Tersedia:http://noorholic.wordpress.com/2008/06/09/sejarah-bimbingan-dan-konseling-dan-lahirnya-bk-17-plus/[23 Maret 2012]
Sudrajat, Akhmad. (2008). Landasan Bimbingan dan Konseling, [Online]. Tersedia:http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/25/landasan-bimbingan-dan-konseling/[23 Maret 2012]





















 
Free Website templateswww.seodesign.usFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesAgence Web MarocMusic Videos OnlineFree Wordpress Themeswww.freethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree CSS Templates Dreamweaver