A. Pengertian
Pengembangan Kurikulum
Pengembangan kurikulum adalah istilah yang komprehensif, didalamnya
mencakup: perencanaan, penerapan dan evaluasi. Perencanaan kurikulum adalah
langkah awal membangun kurikulum ketika pekerja kurikulum membuat keputusan dan
mengambil tindakan untuk menghasilkan perencanaan yang akan digunakan oleh guru
dan peserta didik. Penerapan Kurikulum atau biasa disebut juga
implementasi kurikulum berusaha mentransfer perencanaan kurikulum ke dalam
tindakan operasional. Evaluasi kurikulum merupakan tahap akhir dari
pengembangan kurikulum untuk menentukan seberapa besar hasil-hasil
pembelajaran, tingkat ketercapaian program-program yang telah direncanakan, dan
hasil-hasil kurikulum itu sendiri. Dalam pengembangan kurikulum, tidak hanya
melibatkan orang yang terkait langsung dengan dunia pendidikan saja, namun di
dalamnya melibatkan banyak orang, seperti : politikus, pengusaha, orang tua
peserta didik, serta unsur – unsur masyarakat lainnya yang merasa
berkepentingan dengan pendidikan.
B. Prinsip-prinsip
Pengembangan Kurikulum
Prinsip-prinsip yang akan digunakan dalam kegiatan pengembangan kurikulum
pada dasarnya merupakan kaidah-kaidah atau hukum yang akan menjiwai suatu
kurikulum. Dalam pengembangan kurikulum, dapat menggunakan prinsip-prinsip yang
telah berkembang dalam kehidupan sehari-hari atau justru menciptakan sendiri
prinsip-prinsip baru. Oleh karena itu, dalam implementasi kurikulum di suatu
lembaga pendidikan sangat mungkin terjadi penggunaan prinsip-prinsip yang
berbeda dengan kurikulum yang digunakan di lembaga pendidikan lainnya, sehingga
akan ditemukan banyak sekali prinsip-prinsip yang digunakan dalam suatu
pengembangan kurikulum.
Dalam hal ini, Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengetengahkan
prinsip-prinsip pengembangan kurikulum yang dibagi ke dalam dua kelompok :
(1) prinsip – prinsip umum : relevansi, fleksibilitas, kontinuitas,
praktis, dan efektivitas.
(2) prinsip-prinsip khusus : prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan,
prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan, prinsip berkenaan dengan
pemilihan proses belajar mengajar, prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan
alat pelajaran, dan prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian.
Sedangkan Asep Herry Hernawan dkk (2002) mengemukakan lima prinsip dalam
pengembangan kurikulum, yaitu :
1. Prinsip relevansi; secara internal bahwa kurikulum memiliki relevansi di
antara komponen-komponen kurikulum (tujuan, bahan, strategi, organisasi dan
evaluasi). Sedangkan secara eksternal bahwa komponen-komponen tersebutmemiliki
relevansi dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi (relevansi
epistomologis), tuntutan dan potensi peserta didik (relevansi psikologis) serta
tuntutan dan kebutuhan perkembangan masyarakat (relevansi sosilogis).
2. Prinsip fleksibilitas; dalam pengembangan kurikulum mengusahakan agar yang
dihasilkan memiliki sifat luwes, lentur dan fleksibel dalam pelaksanaannya,
memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan situasi dan kondisi
tempat dan waktu yang selalu berkembang, serta kemampuan dan latar bekang
peserta didik.
3. Prinsip kontinuitas; yakni adanya kesinambungandalam kurikulum, baik secara
vertikal, maupun secara horizontal. Pengalaman-pengalaman belajar yang
disediakan kurikulum harus memperhatikan kesinambungan, baik yang di dalam
tingkat kelas, antar jenjang pendidikan, maupun antara jenjang pendidikan
dengan jenis pekerjaan.
4. Prinsip efisiensi; yakni mengusahakan agar dalam pengembangan kurikulum
dapat mendayagunakan waktu, biaya, dan sumber-sumber lain yang ada secara
optimal, cermat dan tepat sehingga hasilnya memadai.
5. Prinsip efektivitas; yakni mengusahakan agar kegiatan pengembangan
kurikulum mencapai tujuan tanpa kegiatan yang mubazir, baik secara kualitas
maupun kuantitas.
Terkait dengan
pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, terdapat sejumlah
prinsip-prinsip yang harus dipenuhi, yaitu :
1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta
didik dan lingkungannya. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa
peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut
pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan,
kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan.
2. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta
didik, kondisi daerah, dan jenjang serta jenis pendidikan, tanpa membedakan
agama, suku, budaya dan adat istiadat, serta status sosial ekonomi dan gender.
Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan
pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan
kesinambungan yang bermakna dan tepat antarsubstansi.
3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi
dan seni berkembang secara dinamis, dan oleh karena itu semangat dan isi
kurikulum mendorong peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan secara tepat
perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
4. Relevan dengan kebutuhan kehidupan. Pengembangan kurikulum dilakukan dengan
melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi
pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan
kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan
keterampilan pribadi, keterampilan berpikir, keterampilan sosial, keterampilan akademik,
dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan.
5. Menyeluruh dan berkesinambungan. Substansi kurikulum mencakup keseluruhan
dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan
dan disajikan secara berkesinambungan antarsemua jenjang pendidikan.
6. Belajar sepanjang hayat. Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan,
pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.
Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, nonformal
dan informal, dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu
berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.
7. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah. Kurikulum
dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah
untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan
nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan
dengan motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
Pemenuhan
prinsip-prinsip di atas itulah yang membedakan antara penerapan satu Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan dengan kurikulum sebelumnya, yang justru tampaknya
sering kali terabaikan. Karena prinsip-prinsip itu boleh dikatakan sebagai ruh
atau jiwanya kurikulum
Dalam mensikapi suatu
perubahan kurikulum, banyak orang lebih terfokus hanya pada pemenuhan struktur
kurikulum sebagai jasad dari kurikulum . Padahal jauh lebih penting adalah
perubahan kutural (perilaku) guna memenuhi prinsip-prinsip khusus yang
terkandung dalam pengembangan kurikulum.
Tipe-tipe prinsip
pengembangan kurikulum meliputi :
1.
Anggapan kebenaran utuh atau menyeluruh
(Whole Truth)
2.
Anggapan kebenaran parsial (partial
truth)
3.
Anggapan kebenaran yang masih
membutuhkan pembuktian (Hypothesis)
C. Prinsip-Prinsip Khusus
Ada beberapa prinsip
yang lebih khusus dalam pengembangan kurikulum:
Tujuan pendidikan, isi
pendidikan, pengalaman belaJar, penilaian
1. Prinsip berkenaan
dengan tujuan pendidikan
Tujuan menjadi pusat kegiatan
dan arah semua kegiatan pendidikan. Perumusan komponen-komponen kurikulum
hendaknya mengacu pada tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan mencakup tujuan
yang bersifat umum atau berjangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek
(tujuan kusus)
2. Prinsip berkenaan
dengan pemilihan isi pendidikan
Memilih isi pendidikan
yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan yang telah ditentukan, para perencana
kurikulum.
3. Prinsip berkenaan
dengan pemilihan proses belajar mengajar
Pemilihan proses
belajar mengajar yang digunakan hendaknya memperhatikan
a) metode atau teknik
belajar mengajar yang cocok
b) metode atau teknik
tersebut memberikan kegiatan yang bervariasi
c) metode atau teknik
tersebut memberikan urutan kegiatan yang bertingkat-tingkat
d) metode atau teknik
tersebut dapat menciptakan kegiatan untuk mencapai tujuan kognitif, afektif,
dan psikomotor
e) metode atau teknik
tersebut lebih mengaktifkan siswa atau mengaktifkan guru, atau keduanya.
f) Metode atau teknik
tersebut mendorong berkembangnya kemampuan baru
g) Metode atau teknik
tersebut menimbulkan jalinan kegiatan disekolah dan di rumah juga mendorong
penggunaan sumber yang ada di rumah dan di masyarakat
h) Untuk belajar
ketrampilan sangat dibutuhkan kegiatan belajar yang menekankan learning, by doing,
disamping learning by seeing and knowing
4. Prinsip berkenaan
dengan pemilihan kegiatan penilaian
Dalam pengolahan suatu
hasil penilaian hendaknya memperhatikan unsur yang terkandung pada hasil
penilaian tersebut.
D. Pengembangan Kurikulum
Dalam mengembangkan suatu kurikulum bayak pihak yang turut berpartisipasi
yaitu:
1. Peranan para administrator pendidikan
Peranan para administrator di tingkat pusat ( direktur dan kepala
pusat)mdalam pengembangan kurikulum adalam menyusun dasar-dasar hukum, menyusun
kerangka dasar serta program inti kurikulum. Kerangka dasar dan program inti
tersebut akan menuntukan minimum course yang dituntut.
Administrator tingkat pusat berkerja sama dengan para ahli pendidikan dan
ahli bidang studi di perguruaan tinggi serta meminta persetujuannya terutama
dalam penyusunan kurikulum sekolah. Mengembangkan kurikulum sekolah bagi
daerahnya [yang sesuai dengan kebutuhan daerah, para kepala sekolah mempunyai
wewenang dalam membuat operasionalisasi sistem pendidikan pada masing-masing
sekolah.
2. Peranan para ahli
Pengembangan kurikulum membutuhkan bantuan pemikiran para ahli baik ahli
pendidikan, kurikulum dan ahli bidang setudi. Para ahli pendidikan dan
kurikulum memberikan alternatif konsep pendidikan dan model kurikulum yang
dipandang paling sesuai dengan keadaan.
Pengembangan kurikulum juga membutuhkan partipasi para ahli bidang studi
juga mempuyai wawasan tentang pendidikan serta perkembangan tuntutan masyarakat
sumbangan mereka dalam memilih materi bidang ilmu, yang mutahir dan sesuai
dengan perkembangan kebutuhan masyarakat yang diperlukanuntuk memudahkan siswa
untuk mempelajarinya.
3. Peranan Guru
Guru memegang peran penting baik di dalam perencanan maupun pelaksanan
kurikulum. Dia adalah perencana ,pelaksana dan pengembang kurikulum bagi
kelasnya, guru merupakan penrjemah kurikulum
yang datang ari atasan. Ialah yang mengolah, meramu kemali kurikulum
dari pusat untuk disajikan di kelasnya. Guru merupakan barisan pengembangan
kurikulum yang terdepan maka gurupulahlah yang selalu melakukan penyempurnan
terhadap kurikulum.
4. Peranan orang tua murid
Peranan orang tua lebih besar dalam pelaksanan kurikulum diperlukan
kerjasama yang sangat erat antara guru atau sekolah dengan para orang tua
murid. Sebagian kegiatan yang dutuntut kurukulum dilaksanakan di rumah dan
orang tua sewajarnya mengikuti dan mengamati kegiatan belajar anaknya dirumah.
Melalui pengamatan dalam kegiatan belajar di rumah, laporan sekolah,
partipasi dalam kegiatan sekolah orang tua dapat turut serta dalam pengembangan
kurikulum. Kegiatan-kegiatan tersebut akan memberikan umpan balik bagi
penyempurnan kurikulum.
E. Faktor yang
mempengaruhi pengembangan kurikulum
A. Pergurun tinggi
Kurikulum minimal mendapat dua pengaruh dari perguruan tinggi yaitu:
1. Dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan di
perguruan tinggi umum.
2. Dari pengembangan ilmu pendidikan dan keguruan serta penyiapan guru-guru
di perguruan tinggi keguruan.
Jenis pengetahuan yang di perguruan tinggi akan mempengaruhi isi pelajaran
yang akan di kembangkan dalam kurikulum, Perkembangan teknologi selain menjadi
isi kurikulum juga mendukung pengembangan alat bantu dan media pendidikan.
B. Masyarakat
Sebagai bagian dan agen masyarakat, sekolah sangat dipengaruhi oleh
lingkungan myarakat dimana sekolah tersebut berda. Isi kurikulum hendaknya
mencerminkan kondisi dan dapat memenuhi tuntutan dan kebutuhan maayarakat
disekitarnya. Sekolah harus melayani aspirasi-aspirasi yang ada di masyarakt.
Perkembangan dunia usaha yang ada dimasyarakat mempengaruhi pengembangan
kurikulum sebab sekolah bukan hanya mempersiapkan anak untuk hidup, tetapi juga
untuk berkerja dan berusaha.
C. Sistem nilai
Masalah utama yang dihadapi para pengembang kurikulum menghadapi nilai ini
adalah, bahuwa dalam masyarakat nilai itu tidak hanya satu masyarakat umumnya
heterogen dan multifaset. Ada beberapa hal yang di perhatikan guru dalam
mengerjakan nilai:
1. Guru hendaknya mengetahui dan memperhatikan semua nilai yang ada dalam
masyarakat.
2. Guru hendaknya berpegang pada prinsip demokrasi, etis dan moral.
3. Guru berusaha menjadikan dirinya sebagi teladan yang ditiru.
4. Guru menghargai niali-nili kelompok lain.
5. Memahami dan menerima keragaman budaya sendiri
F. Model- Model Pengembangan Kurikulum
Sekurang-kurangnya dikenal
delapan model pengembangan kurilum yaitu: The administrative (line staff)
model, The grass roots model, Beauchamp’s system, The demonstration model,
Taba’s inverted model, roger’s interpersonal relation model, The systematic
action research model dan emerging technical model.
1. The administrative
model.
Model pengembangan
kurikulum ini merupakan model pengembangan kurikulum yang paling lama dan
banyak dikenal. Model pengembangan kurikulum ini digagas oleh para
administrator pendidikan dan menggunakan prosedur administrasi.degan wewenang
administrasinya administrator pendidikan mebentuk komisi atau tim pengarah
pengembangan kurikulum.anggota- anggota komisi atau tim ini terdiri dari
pejabat di bawahnya, para ahli pendididkan, ahli kurkulum, ahli disiplin ilmu,
dan para tokoh dari dunia kerja dan perusahaan. Tugas komisi ini adalah
merumuskan konsep- konsep dasar, landasan- landasan, kebijaksanaan, dan
strategi utama pengembangan kurikulum. Tim kerja pengembangan kurikulum
bertugas menyusun kurikulum yang sesungguhnya yang lebih oprasional, dijabarkan
dari konsep- kosep dan kebijaksanaan yang telah digariskan oleh tim pengarah.
Setelah itu dikaji oleh tim pengarah dan ahli lain yang berwenang. Setelah
mendapatkan kajian dan penilaian, administrator pemberi tugas menyampaikan
kurikulum ke sekolah- sekolah. Dalam tahun- tahun awal perlu adanya monitoring,
pengawasan, dan pengamatan, serta perlu adanya evaluasi untuk mengetahui
tingkat keberhasilan.
2. The grass roots
model
Model pengembangan
kurikulum ini berasal dari guru- guru di sekolah yang mana bersifat
desentralisasi. Pengembangan kurikulum ini dapat dilakukan oleh sebagai guru
atau sekelompok guru untuk menyusun kurikulum. Apabila kondisinya memungkinkan
model ini lebih baik, sebab guru adalah perencana, pelaksana, dan penyempurna
dari pengajaran di kelasnya. Prinsip- prinsip pengembangan kurikulum menurut
Smith, Stanley, Sores (1956 ; 429).
Model the grass roots
model yang bersifat desentralisasi dapat memunculkan persaingan yang dapat
menciptakan manusia yang kreatif dan mandiri.
3. Beauchamp’s system
Model ini dicetuskan
oleh Beauchamp, dimana dibagi menjadi lima. Pertama menentukan area atau
wilayah yang akan dicakup kurikulum tersebut. Kedua menentukan personalia yang
akan ikut dalam pengembangan kurikulum. Dikelompokkan menjadi para ahli
kurikulum yang berada dipusat, para ahli pendidikan berasal dari perguruan
tinggi, ahli professional dalam pendidikan, dan tokoh lain. Ketiga organisasi
dan prosedur pengembangan kurikulum, yang mana dibagi menjadi; membentuk tim
pengembangan kurikulum, mengadalkan penilaia dan penelitian tentang kurikulum
yang ada, studi penjajagan tentang penyusunan kurikulum yang baru, merumuskan
kriteria- kriteria yang ada dalam kurikulum yang baru, penyusunan kurikulum
baru. Keempat mengimplementasikan kurikulum. Langkah ini membutuhkan kesiapan
guru, siswa, kelas, biaya, dan administrator. Yang ke lima mengevaluasi
kurikulum, yang mencakup empat hal evaluasi kurikulum pada guru- guru evaluasi
desain kurikulum, evaluasi hasil belajar siswa, dan evaluasi dari keseluruhan
kurikulum.
4. The Demonstration
model
Model demonstrasi pada
dasarnya bersifat grass roots, datang dari bawah. Model ini diprakarsai oleh
sekelompok guru atau sekelompok guru bekerja sama dengan ahli yang bermaksud
mengadakan perbaikan kurikulum. Model ini umumnya berskala kecilm, hanya
mencakup suatu atau beberapa sekolah, suatu komponen kurikulum atau mencakup
keseluruhan kurikulum. Karena sifatnya ingin mengubah atau mengganti kurikulum
yang ada, pengembangan kurikulum sering mendapt tantangan dari
pihak-pihaktertentu.
Menurut Smith,
Stanley, dan Shores ada dua variasi model demonstrasi ini. Yang pertama,
sekelompok guru dari suatu sekolah tau beberapa sekolah ditunjuk untuk
melakukan suatu percobaan tentang pengembangan kurikulum.
Sedangkan bentuk yang
kedua, kurang bersifat formal. Beberapa guru yang merasa kurang puas dengan
kurikulum yang ada, mencoba mengadakan penelitian dan pengembangan sandiri.
Mereka melakukan hal-hal lain yang berbeda dengan yang berlaku.
Ada beberapa perbaikan
dari pengembangan kurikulum dengan model demonstrasi ini. Pertama kurikulum
disusun dan dilaksanakan dalam situasi tertentu yang nyata, maka akan
dihasilkan kurikulum atau aspek tertentu dari kurikulim yang lebih praktis.
Kedua, perubahan atau penyempurnaan kurikulum dalam skala kecil atau aspek
tertentu yang khusus, sedikit sekali untuk ditolak oleh administrator,
dibandingkan dengan perubahan dan penyempurnaan yang menyeluruh.
Ketiga, pengemban
kurikulum dalam skala kecil dengan model demonstrasi dapat menembus hambatan
yang sering dialami yaitu dokumentasinya bagus tetapi pelaksaan tidak ada.
Keempat, model ini sifatnya yang modelnya grass roots menempatkan guru sebagai
ppengambil inisiatif dan narasumber yang dapat menjadi pendorong bagi para
administrator untuk mengembangkan program baru. Kelemahan model ini adalah bagi
guru yang tidak ikut berpartisipasi mereka akan menerima dengan enggan-enggan,
dalam keadaan terburuk mungkin akan terjadi apatisme.
5. Taba’s Inverted
Model
Menurut cara yang
bersifat tradisional pengembangan kurikulum dilakukan secara deduktif. Taba
berpendapat model deduktif ini kurang cocok, sebab tidak merangsang timbulnya
inovasi-inovasi. Menurutnya pengembangan
kurikulum yang dapat mendorong inovasi dan kreativitas guru adalah yang
bersifat induktif, yang merupakan inversi atau arah terbalik dari model
tradisional.
Ada lima langkah
pengembangan kurikulum model Taba ini, pertama, mengadakan unit-unit eksperimen
bersama guru-guru. Di dalam unit eksperimen ini diadakan studi yang seksama
tentang hubungan antara teori dengan praktek. Perencanaan didasarkan pada teori
yang kuat, dan eksperimen di dalam kelas menghasilkan data yang untuk menguji
landasan teori yang digunakan.
Langkah kedua, menguji
unit eksperimen. Meski unit eksperimen ini telah diuji dalam pelaksanaan di
kelas atau tempat lain untuk mengetahui validitas dan kepraktisannya, serta
menghimpun data bagi penyempurnaan.
Langkah ketiga,
mengadaka revisi dan konsolidasi. Selain diadakan penyempurnaan, digunakan juga
konsolidasi, yaitu penarikan kesimpulan pada hal yang lebuh bersifat umum yang berlaku dalam lingkungan yang lebih
luas. Langkah keempat, pengembangan keseluruhan kerangka kurikulum. Langkah
kelima, implementasi dan diseminasi yaitu menerapkan kurikulum baru ini pada
daerah atau sekolah-sekolah yang lebih luas.
6. Roger’s
Interpersonal Relations Model
Menurut When Crosby
(1970: 388) perubahan kurikulum adalah perubahan individu. Menurut Rogers
manusia berada pada proses perubahan, sesungguhnya ia memiliki potensi dan
kekuatan untuk berkembang sendiri, tapi karena ada hambatan dia membutuhkan
orang lain untuk membantu mempercepat perubahan tersebut.
Ada empatlangkah
pengembangan kurikulum model Rogers. Pertama, pemilihan target dari sistem pendidikan. Langkah kedua
adalah partisipasi guru dalam pengalaman kelompok yang intensif. Langkah ketiga
yaitu pengembangan pengalaman kelompok yang intensif satu kelas atau unit
pelajaran. Langkah keempat adalah partisipasi orang tua dalam kegiatan
kelompok.
Model pengembangan
kurikulum dari Rogers berbeda dengan model lainnya, sebab tidak ada suatu
perencanaan kurikulum tertulis, yang ada hanyalah rengkaian kegiatan kelompok.
Metode pendidikan yang diutamakan Rogers adalah sensitivity training, encounter
group dan Training group (T Group).
7. The Systematic
Action-Research Model
Model kurikulum ini
didasarkan pada asumsi bahwa perkembangan kurikulum merupakan perkembangan
sosial. Hal itu mencakup suatu proses yang melibatkan kepribadian orang tua,
siswa, guru, struktur sistem sekolah, pola hubungan pribadi dan kelompok dari
sekolah, dan masyarakat. Sesuai dengan asumsi tersebut model ini menekankan
pada tiga hal yaitu hubungan insani, sekolah dan organisasi masyratakat, serta
wibawa dari pengetahuan profesional.
Penyusunan kurikulum
harus memasukkan pandangan dan harapan masyarakat, dan salah satu cara untuk
mencapai hal itu adalah dengan prosedur action research.
Langkah pertama,
mengadakan kajian secara seksma tentang masalah kurikulum, berupa pengumpulan
data yanf bersifat menyeluruh, mengidentifikasi faktor, kekuatan, dan kondisi
yang mmempengaruhi masalah tersebut. Langkah kedua yaitu implementasi dari
masalah yang diambil dalam tindakan pertama.
8. Emerging Technical
Models
Perkembangan bidang
teknologi dan ilmu pengetahuan serta nilai efisiensi efektivitas dalam bisnis,
juga mempengaruhi perkiembangan model kurikulum. Tumbuh kecenderungan baru yang
didasarkan atas hal itu, di antaranya adalah:
a.The behavioral
Analysis Model, menekankan penguasaan perilaku atau kemampuan.
b.The Systemj Analysis
Model berasal dari gerakan efisiensi bisnis.
c.The Computer-Based
Model suatu model pengembangan kurilkulum dengan memanfaatkan komputer.
DAFTAR PUSTAKA
E. Mulyasa. 2008.
KurikulumTingkat Satuan Pendidikan. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Sukmadinata, Nana
Syaodah. 2007. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung : PT.
Rosdakarya
